Surabaya (beritajatim.com) – Jika biasanya lakon di sebuah pagelaran wayang diperankan oleh para profesional, lalu bagaimana ketika lakon tersebut justru diperankan oleh para penyandang disabilitas?
Di Surabaya, Sabtu (9/12/2023) malam, ada pagelaran wayang yang pemainnya para penyandang disabilitas. Memang agak beda, tapi mereka tampak begitu enjoy, menikmati setiap adegan-adegan yang diperankan.
Bahkan, gelak tawa penonton pun pecah di sepanjang jalannya pementasan. Mereka tampak terhibur menyaksikan akting para anak-anak istimewa tersebut.
Ditambah lagi tingkah kocak Boy Insaf sebagai dalang yang membuat pementasan menjadi cair. Seru, sebab tak hanya para lakon yang menjadi korban kejahilannya, para pengiring musik pun tak luput dari sasaran.
BACA JUGA: Pameran Karya Disabilitas Banyuwangi di Festival Kita Bisa
“Hey, jek suwe ta (masih lama kah, red) ?,” celetuk dalang kepada para pengiring musik yang saat itu tak kunjung usai menyanyikan lagu dari Fourtwenty.
Para pemain musik itu seluruhnya adalah penyandang tuna netra. Mereka mengikuti proses latihan pagelaran ini setidaknya dua bulan lebih. “Latihannya cuma dua bulan, alhamdulillah lancar. Kekurangannya masih banyak,” ujar Prana Carenza, pemain gitar.
Prana yang juga koordinator kegiatan ini menyebut bahwa pementasan ini mengisahkan sosok Rama yang ingin membangun jembatan. Jika dalam kisahnya Rama menyelamatkan Dewi Sinta, tapi di pementasan kali ini Sinta dianalogikan sebagai kesetaraan.
BACA JUGA: Bupati Kediri Serap Usulan Disabilitas dalam Peringatan HDI
“Seperti itu tadi, ada rintangannya, seperti jembatannya dihancurkan. Pesannya, untuk mencapai sesuatu pasti ada rintangan yang tidak tahu apa di depannya. Tinggal kita bagaimana bersikap untuk menghadapi itu,” tuturnya.
Sementara Dian Eka CO Founder Komunitas Mata Hati mengatakan total ada 15 aktor dan 5 pemain musik pengiring dalam pagelaran wayang inklusi ini. Mereka dari tuna rungu, tuna daksa, tuna netra, dan down syndrome.
“Ini acara rutin dua tahun sekali. Kita menyelipkan pesan inklusi, pesan sosial melalui pagelaran wayang inklusi berjudul Rama Tambak,” katanya.
BACA JUGA: Kegembiraan Nayla Bertemu dengan Atikoh di Hari Disabilitas Internasional
Pagelaran wayang yang dihelat di Auditorium RRI Surabaya ini, kata Eka, menjadi cara sekaligus wadah menyampaikan kesetaraan yang harus diraih bersama disabilitas. Mereka memiliki banyak potensi dan bakat.
“Tuna netra sudah bisa menggunakan gadget, bisa mandiri tanpa bantuan orang lain. Tuna rungu juga sekarang kita sudah mengedukasi supaya tetap adanya bahasa isyarat di setiap kegiatan,” ujar Eka. [ipl/suf]






