Mojokerto (beritajatim.com) – Situs Siti Inggil yang terletak di Dusun Kedung Wulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto diyakini sebagai petilasan pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya. Raden Wijaya merupakan pendiri dari kerajaan Majapahit sekaligus raja pertama Majapahit yang memerintah pada tahun 1293-1309, bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardana.
Arkeolog di Museum dan Cagar Budaya, Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, Siti Inggil merupakan punden dari Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong dan disakralkan oleh masyarakat. Kemudian muncul tokoh yang kemudian mengadakan ritual di Situs Siti Inggil, lalu menyebar dari mulut ke mulut sehingga tercipta suatu kepercayaan.
“Dari sisi arkeologis, daerah Kedungwulan, Bejijong, ada Candi Brahu, Siti Inggil, Candi Gentong dan beberapa temuan struktur batu cukup padat, pada waktu zaman Henri Maclaine Pont tahun 1924 sudah mendapatkan perhatian sendiri oleh Henri Maclaine Pont,” ungkapnya, Rabu (15/11/2023).
Henri Maclaine Pont mencoba memetakan atau merekontruksi terhadap denah Kraton Majapahit. Salah satunya ekskavasi dilakukan di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong. Dalam catatan Henri Maclaine Pont, jelas Wicak, di Kedungwulan disebut sebagai Lemah Tulis yakni nama daerah yang disebut dalam naskah Negara Kertagama.
BACA JUGA: Berdiri 230 Tahun, Ini Raja-raja Kerajaan Majapahit Mojokerto
“Letak dari Lemah Tulis ada di Dusun Kedungwulang, Desa Bejijong. Ini menarik, karena Lemah Tulis dalam naskah Negara Kertagama diceritakan sebagai lokasi tempat pembelajaran dan tempat pendeta agama budha. Nyambung dengan Candi Brahu, Gentong merupakan komplek lingkungan padepokan agama Budha,” katanya.
Yakni tempat pembelajaran dan tempat tinggal pendeta Budha zaman Kerajaan Majapahit. Dalam naskah Negara Kertagama disebut nama Mpu Barada sebagai pendeta Budha yang tinggal di Lemah Tulis. Siti Inggil, lanjut Wicak, merupakan bagian kaki batur bangunan yang kemudian semacam pendopo.
BACA JUGA: Gaung Sakala Majapahit ke 730, Event BPK Wilayah XI Dalam Rangka Perlindungan Kebudayaan
“Saat zaman Kerajaan Majapahit ada pengelompokan area peribadatan. Muslim itu di Troloyo dan sekitarnya, Bejijong kompleks Budha dan Siti Inggil bagian dari itu kalau dari segi arkeolognya. Menariknya, jika Lemah Tulis di sana (Kedungwulan, red), maka patung Joko Dolog yang ada di Taman Apsari Surabaya ditemukan di Lemah Tulis yang merupakan perwujudan dari Kertanegara,” jelasnya.
Wicak menjelaskan, pada masa penjajahan Belanda patung Joko Dolog akan dibawa ke Belanda sehingga dibawa ke Surabaya dan diletakan sementara di Taman Apsari. Saat tidak jadi dibawa ke Belanda, patung Joko Dolog tidak lagi dikembalikan lantaran tidak ada yang tahu pasti posisi Lemah Tulis berada dimana.
Pada jaman Kerajaan Majapahit, posisi desa dengan desa yang lain jaraknya berjauhan tidak seperti saat ini. Siti Inggil muncul sebagai bagian punden desa bukan dari sisi arkelogis. Dari sisi arkelogis, tegas Wicak, Siti Inggil merupakan bagian dari kompleks pembelajaran Budha pada masa Kerajaan Majapahit sehingga daerah itu disebut sebagai Lemah Tulis.
“Siti Inggil bagian dari itu, mungkin semacam pendopo. Tanpa bermaksud menghilangkan kesakralan dari punden Siti Inggil bagi masyarakat Kedungwulan, dari sisi kami (arkeolog) memang daerah Kedungwulan sebagai tempat pembelajaran agama Budha. Dari masa Majapahit, Lemah Tulis banyak dikunjungi yang ingin mendalami agama Budha,” ujarnya.
BACA JUGA: Kerajaan Majapahit Didirikan Raden Wijaya pada 1293 Masehi
Dasar tersebut yang digunakan pembangunan Maha Vihara Majapahit yang terletak di sisi selatan Situs Siti Inggil. Wicak menambahkan, dalam naskah Negara Kertagama disebutkan abu Raden Wijaya diletakan di Candi Simping yang terletak di Dusun Krajan, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.
“Situs Siti Inggil diduga bangunan dari sebuah kraton yakni berupa sebuah pendopo yang digunakan untuk menerima tamu. Siti Inggil merupakan bagian kaki batur bangunan yang kemudian semacam pendopo. Namun jika dianggap Situs Siti Inggil merupakan makam Raden Wijaya, hal tersebut perlu dikaji ulang,” tegasnya. [tin/suf]

![Situs Siti Inggil di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. [Foto : Misti/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/06/IMG-20230609-WA0001_jZalJ2yz4a-300x169.jpeg)





