Bojonegoro (beritajatim.com) – Memiliki tekstur yang renyah dan rasa yang manis, buah melon bisa menjadi pilihan saat cuaca panas seperti saat ini. Apalagi dimakan saat baru dipetik, akan lebih menambah kesegaran. Sehingga, pengembangan wisata petik melon ini bisa menjadi alternatif untuk mendatangkan cuan.
Seperti yang dilakukan petani milenial, Wiknyo Sumarko (61) asal Desa Somodikaran RT 004 RW 002, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Ia mengembangkan budidaya melon di dalam green house yang bisa dipetik langsung oleh pengunjung saat masa panen. Hasilnya, cukup memuaskan.
Dalam green house yang dibuatnya, ia bisa memanen sebanyak kurang lebih 800 kg buah melon jenis inthanon. Masing-masing buah melon itu beratnya sekitar 1,5 kg sampai 2 kg. Per kilogram, untuk buah melon jenis Intanon ini dihargai sekitar Rp20 ribu.
Sedangkan, ia menjelaskan, untuk biaya produksi awal, seperti pembuatan green house serta instalasi pengairan habis biaya sekitar Rp20 juta. Sedangkan dari musim tanam hingga panen, untuk kebutuhan pupuk, nutrisi, dan bibit habis biaya sekitar Rp5 juta untuk 1.000 bibit tanaman.
“Untuk green house sendiri bisa dipakai bertahun-tahun. Sedangkan untuk masa panen sendiri sekitar 60 hari sudah panen,” ujarnya, Selasa (14/11/2023).
Wignyo menjelaskan, tanam melon dengan sistem green house ini dinilai lebih ekonomis. Sebab, fungsi utama dari green house adalah mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dengan mengatur suhu, kelembapan, pencahayaan, dan sirkulasi udara di dalamnya.
Selain itu, juga sebagai perlindungan terhadap cuaca ekstrem, pengendalian hama dan penyakit, perpanjangan musim tanam, dan peningkatan produktivitas serta kualitas tanaman. Struktur bangunan tertutup yang dirancang untuk membantu pertumbuhan tanaman dengan menciptakan lingkungan yang terkendali.
Sementara salah seorang pengunjung, Ida Ardha Prihatin (25) warga Desa Pacul, Kecamatan Bojonegoro mengaku baru pertama kali berkunjung ke wisata petik buah melon ini. Ia mengungkapkan, buah melon segar yang baru dipetik bisa menambah kesegaran. Selain bisa dimakan di tempat, pengunjung juga bisa membawa pulang buah yang dipetik. “Bedanya di sini bisa metik sendiri menambah sensasi lain. Kualitasnya juga bagus dan rasanya manis,” ungkapnya. [lus/kun]
BACA JUGA: Budidaya Melon di Bojonegoro ini Bisa Jadi Contoh Bisnis Menguntungkan






