Surabaya (beritajatim.com) – Banyak orang yang bertanya soal dosis ketika obat tersebut dinilai kurang ampuh untuk mengatasi penyakit. Tak jarang, muncul juga spekulasi jika obat itu hanya cocok pada orang tertentu.
Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya) Dr apt Fauna Herawati menyebut jika hal itu bisa dijelaskan secara farmakokinetik. Menurutnya, variasi genetik bisa mempengaruhi jumlah dan ketersediaan enzim-enzim yang memetabolisme obat di hati.
Salah satunya yang terkenal adalah enzim Sitokrom P450. Enzim ini memiliki tugas untuk menguraikan obat agar dapat dicerna dan masuk ke dalam saluran sistematik hingga memberikan efek bagi tubuh.
Fauna menerangkan, ada kelompok orang yang memiliki cukup banyak enzim Sitokrom 450. Sehingga, proses peruraian obat jadi lebih cepat dan berakibat pada tingkat efektivitas obat yang berkurang. Sementara orang dengan sedikit enzim ini menyebabkan proses peruraian obat menjadi lebih lambat.
“Hal ini mengakibatkan obat dapat menumpuk di darah, meskipun dosis obat yang dikonsumsi tetap. Penumpukan obat tersebut, jika melewati batas ambang kadar aman, akan menjadi toxic dan berbahaya bagi tubuh,” ujarnya, Jumat (10/11/2023).
Ketua Prodi Magister Ilmu Farmasi Ubaya itu juga menjelaskan bahwa setiap obat memiliki indeks terapi yang menentukan kapan obat tersebut memberikan efek toxic atau tidak. Istilahnya, indeks terapi lebar dan sempit. “Contohnya antibiotik itu indeksnya lebar. Jadi kadang-kadang untuk infeksi yang ringan dosisnya 500mg. Untuk infeksi yang lebih berat di dua kali lipatkan dosisnya tidak apa-apa,” jelasnya.
Konsumsi obat dan makanan tertentu serta merokok dapat mempengaruhi jumlah enzim Sitokrom P450 dalam tubuh. Maka dari itu, penggunaan obat keras tidak bisa sembarangan dan wajib menggunakan resep dokter.
Sedangkan untuk kebanyakan obat yang dijual secara bebas di apotek merupakan obat yang aman dikonsumsi berapapun jumlah enzim Sitokrom P450 dalam tubuh. “Sebaiknya tanya apoteker apakah ada interaksi obat sehingga tidak menimbulkan efek yang parah,” pungkasnya. [ipl/kun]
BACA JUGA: Tim Dosen Farmasi Ubaya Ciptakan Gel Kesehatan dari Daun Sendok






