Surabaya (beritajatim.com) – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meluncurkan program Digital Skills Programme untuk SMA Double Track di Graha ITS Surabaya, Kamis (26/10/2023).
Peluncuran ini sekaligus penanda kerjasama antara Pemprov Jatim, ITS dan Unicef dalam program SMA Double Track. Di sini, akan menitikberatkan pendidikan pada literasi digital bagi siswa yang berwirausaha.
Khofifah menilai bahwa program digital skills dan Millenial Enterpreneur Award (MEA) menjadi hal penting. Mengingat, inovasi dan apresiasi merupakan kunci untuk melakukan improvisasi.
Baca Juga: Diminta Dampingi Pembahasan APBD Jember 2024, Ini Jawaban KPK
“Dari sini kita bisa mengukur bagaimana kapasitas kita, inovasi, dan improvement yang dilakukan. Alhamdulillah, yang dulu ragu akhirnya bisa melihat hasilnya sekarang,” ujar gubernur perempuan pertama di Jatim tersebut.
Ia juga berpesan kepada para siswa agar menjadi agen perubahan. Sehingga, mereka bisa menyesuaikan diri menghadapi tantangan abad ke-21. “Anak-anak harus jadi game changer, punya kemampuan mengubah keadaan yang semula tidak bisa menjadi bisa,” tuturnya.
Sedangkan kepada para kepala sekolah, Khofifah berpesan agar mereka bisa menjadi enabler leader atau pemimpin pemungkin. Mereka diharapkan bisa menciptakan ruang dengan penuh kemungkinan untuk mencapai cita-cita dan kesuksesan.
Baca Juga: KPU Pamekasan Terima 4.896 Botol Tinta untuk Pemilu 2024
Sementara itu, Chief of Java Field Office UNICEF Tubagus Arie Rukmantara mengatakan bahwa ia jatuh hati dengan SMA Double Track setelah Gubernur Khofifah banyak memperkenalkan double track di banyak kesempatan.
“Saat itu saya mengatakan bahwa tidak perlu Unicef bikin formulasi sendiri, karena sudah ada Double Track ini. Jadi di Unicef kami bilang kalau for every child, we have East Java as a role model,” katanya.
Selain itu, ia mengatakan bahwa populasi anak di Jatim begitu tinggi. Sehingga, harus dipastikan setiap anak berkualitas dan maju agar dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak lain di Indonesia.
Sementara Kadindik Jatim Aries Agung Paewai menjelaskan bahwa program SMA Double Track merupakan embrio untuk menampung anak-anak yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.
Baca Juga: Bunuh Mahasiswi, Terdakwa Beralibi Anak dan Isteri Dihina
Tentunya, kreatifitas dan kompetensi mereka diasah sesuai dengan kondisi kebutuhan skill di DUDI. Ini agar mereka siap terjun ke masyarakat melalui rintisan wirausahan maupun bekerja di industri.
“Program ini menyasar pada satuan pendidikan yang berada di daerah terpencil dengan siswa yang tidak memiliki minat melanjurkan ke perguruan tinggi. Dengan pembekalan skill di double track ini siswa bisa terbekali keterampilannya,” ujar dia.
Ia menambahkan, melihat tren positif dan peminatan yang cukup tinggi tiap tahunnya, Dindik Jatim akan terus mengembangkan program secara berkelanjutan dan bermanfaat bagi msyarakat luas. [ipl/ian]






