Jember (beritajatim.com) – Mahfud MD dan Anies Rasyid Baswedan terlibat dalam kontestasi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2024. Ternyata bukan sekali ini saja mereka pernah berhadapan, dan dalam kontestasi sebelumnya Mahfud berhasil mengalahkan Anies.
Hal ini diungkapkan Moch. Eksan, anggota Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (22/10/2023). “Saya termasuk salah satu yang diutus Presidium KAHMI Jember dalam Musyawarah Nasional KAHMI IX Pekanbaru, Riau, pada 2012 untuk memilih Presidium KAHMI Nasional 2012-2017. Di dalamnya ada Pak Mahfud dan Mas Anies,” katanya.
“Saat itu sedang moncer-moncernya Pak Mahfud, dan Mas Anies sebagai tokoh muda sedang naik,” kata Eksan. Mahfud saat itu menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi. Anies Baswedan menjabat Rektor Universitas Paramadina.
Saat itu Mahfud meraih suara terbanyak dan terpilih menjadi koordinator. Sementara Anies menduduki peringkat lima suara terbanyak. Mahfud MD meraih 347 suara, Viva Yoga Mauladi 334 suara, Anas Urbaningrum 320 suara, Muhammad Marwan 313 suara, Anies Baswedan 308 suara, Bambang Soesatyo 260 suara, Reni Marlina 192 suara, Malem Sambat (MS) Kaban 156 suara, dan Taufiq Hidayat meraih 153 suara.
Anies dan Mahfud sama-sama aktif di HMI saat kuliah di Yogyakarta. Anies adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Angkatan 1989, sementara Mahfud adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Angkatan 1978.
BACA JUGA:
Mahfud MD; Akademisi, Penulis, Hakim hingga Politisi
Takdir mempertemukan keduanya dalam Pemilihan Presiden periode 2024-2029. Mahfud menjadi calon wakil presiden mendampingi Ganjar Pranowo yang diusung PDI Perjuangan dan Partai Persatuan Pembangunan. Sementara Anies menjadi calon presiden didampingi Muhaimin Iskandar, diusung Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Keadilan Sejahtera.
Eksan bangga dan menghormati kedua sosok tersebut. “Saya merasa ternyata KAHMI bisa jadi katalisator aspirasi kepemimpinan nasional. Ini sebuah kehormatan tersendiri bagi keluarga besar HMI dan KAHMI. Dua kader terbaiknya masuk dalam kontestasi pemilu presiden,” katanya.
“Ini menunjukkan bahwa HMI dan KAHMI menjadi sumber daya kepemimpinan nasional kita. Ini menunjukkan bahwa proses kaderisasi di HMI dan KAHMI berhasil,” jelas alumnus Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember ini.
Sejauh ini sejumlah survei masih mengunggulkan pasangan Ganjar Pranowo – Mahfud MD dibandingkan Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar. Namun Eksan melihat, kekuatan Anies tidak sepenuhnya terpotret oleh lembaga survei.
BACA JUGA:
Mahfud MD Bacawapres Ganjar, HT: Cocok Bawa Indonesia Emas
“Karakter pendukung Mas Anies terbangun dalam tradisi jemaah. Itu yang berbeda dengan yang lain. Karakter ini tidak masuk dalam sampek survei. Tradisi komunal pendukung Anies sangat tinggi. Ketika memotret satu orang, jangan dibaca cuma satu orang, karena ia bagian dari tradisi jemaah,” kata Eksan.
Hal ini, lanjut Eksan, menjelaskan kegagalan survei-survei memotret pemilihan kepala daerah di Jakarta pada 2017 silam. “Jakarta seperti itu. Kenapa pemilihan gubernur Jakarta tak terpotret hasil survei, karena survei hanya mengambil data demografi: berapa yang beragama Islam dan non Islam, usia, pendidikan, dan seterusnya. Budaya komunalnya tidak dilihat dalam memasukkan kriteria penentuan responden sehingga gagal memotret Anies,” katanya.
Hal serupa juga terjadi di NU. “Budaya komunalitas di NU juga tinggi. Jejaring sosial dan budaya patronase tidak bisa terpotret lembaga survei. Jadi kalau kemudian mereferensikan hasil survei semata-mata tanpa melihat itu, kemungkinan survei tak bisa membaca. Dalam budaya jemaah, orang menentukan pilihan berdasarkan preferensi tokoh. Patron clients. Itu menyebabkan pilihan bersangkutan berdasarkan preferensi para tokoh,” kata Eksan.
Eksan percaya Anies-Muhaimin bisa masuk putaran kedua. “Dan ketika putaran kedua, sesama keluarga besar KAHMI bersatu,” katanya. [wir]






