Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak diwaduli sejumlah pelaku bisnis online yang terdampak oleh penutupan tiktok shop.
Emil menampung aspirasi pelaku bisnis online yang sebagian besar merupakan milenial dan Gen Z dari Komunitas Omah Guyub.
“Ada pro dan kontra atas ditutupnya kanal belanja online seperti Tiktok Shop. Manakala ada usaha hulu dan hilir dicampur tentu ada kekhawatiran atas pemerataan rezeki,” kata Wagub Emil usai dialog dengan pelaku bisnis online di Revolusi Ngopi, Kamis (20/10/2023).
Emil mengatakan pemerintah dapat mengkaji lebih lanjut kebijakan seputar pemerataan peluang usaha online maupun offline. Apalagi, kini di kanal belanja online terdapat banyak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan micro influencer yang berupaya memperluas usaha mereka.
“Ada yang tadinya bisa kreatif secara online lalu terdampak. Indonesia ini negara Ekonomi Pancasila. Maka kita bisa bersama mereview dan mengkaji kebijakan itu untuk tahu manfaat dan mudharatnya,” kata mantan Bupati Trenggalek ini.
Emil pun mendukung adanya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha untuk bersama mengkaji kebijakan terbaik bagi perekonomian masyarakat.
“Sepinya pusat perbelanjaan ini fenomena global. Pemerintah, pelaku bisnis, dan penyedia jasa harus saling berkolaborasi supaya kebijakan yang dibuat tidak meruweti hidup orang. Tidak ada yang statis, kita ambil kebijakan, review bersama pelaku, dan kaji bersama,” ujar Emil.
Baca Juga:
TikTok Shop Resmi Ditutup Hari Ini, 4 Oktober 2023
Emil menyebut salah satu langkah terus digencarkan Pemprov Jatim bisa sampai ke taraf pemerintah daerah adalah onboarding usaha sehingga UMKM beroperasi online dan offline.
“Kita perhatikan nasib dari para pelaku UMKM. Bahwa mereka harus migrasi online itu suatu keniscayaan dan tentunya kami dari pemerintah di semua jenjang, sampai ke level pemerintah desa, juga kelurahan cari bagaimana cara efektif untuk onboarding,” sebutnya.
“Mengajak para pelaku menjadi Hybrid, melangsungkan offline danonline sehingga pendapatan mereka juga bisa bertambah Saya dengar juga platform itu mulai berbenah supaya bisa lebih memenuhi harapan untuk lebih sesuai regulasi dan bisa terus bermanfaat,” sambungnya.
Emil juga menyoroti perubahan perilaku konsumen, dimana masyarakat lebih sering berbelanja jasa ketimbang barang.
Terkait hal ini, ia mendukung adanya berbagai pelatihan diversifikasi profesi yang dapat diinisiasi oleh Pemprov, Pemda, dan komunitas sehingga platform digital dapat juga digunakan untuk menawarkan jasa.
“Kini kebutuhan orang mulai bergeser. Ini yang harus kita cermati. Maka kami di pemerintah tidak serta merta mendorong pelaku usaha ke satu arah. Jangan semua dibuat seragam menciptakan produk yang sama, diajari skill yang sama hingga kemudian konsumen jenuh,” pungkasnya.[asg/ted]






