Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya berkomitmen untuk mendukung arsitektur ramah lingkungan. Salah satunya lewat kegiatan The 5th International Conference on Empathic Architecture (ICEA) Tahun 2023.
Sejak lama, Program Arsitektur UK Petra memang memiliki visi mewujudnyatakan arsitektur yang berempati. Tak hanya kepada penguni sebuah bangunan, tapi juga berempati kepada lingkungannya.
Koordinator ICEA 2023 Elvina Wijaya mengatakan bahwa di zaman sekarang, arsitektur menjadi industri yang sangat rentan merusak lingkungan. Bahkan, proses produksi dari bahan-bahan material yang dipakai juga sudah banyak mencemari lingkungan.
Baca Juga: Praktik AI Telah Masuk Dunia Jurnalisme, Benarkah Mesin Bisa Gantikan Manusia?
Karena itu, pada ICEA kali ini UK Petra mengangkat tema ‘Architecture for Health and Well-being’. Tema ini dipilih karena melihat dari masa-masa pandemi, di mana sebagian besar waktu dihabiskan di dalam rumah.
“Arsitektur bangunan juga bisa mempengaruhi kesehatan dan kebahagiaan manusia yang menghuni di dalamnya. Karena itu, banyak masyarakat semakin sadar pentingnya memahami dampak desain arsitektural pada kesehatan, dan kesejahteraan mental penghuninya,” ungkap Elvina.
Pada kegiatan ini, ada pula International Workshop yang diikuti oleh mahasiswa dari UK Petra dan National University of Singapore (NUS). Para pegiat Arsitektur mulai dari Amerika, China, Singapore, dan Indonesia, membagikan pandangan mereka tentang arsitektur yang memperhatikan lingkungan.
Baca Juga: Suporter Persebaya Diimbau Tidak Datang ke Gianyar
Instruktur Workshop Bram Michael Wayne mengatakan jika dalam workshop itu, para peserta diajak untuk melihat fenomena adanya kampung kota di Surabaya, seperti kampung Ketandan, Kebangsren, dan Blauran.
“Kami memilih Jalan Tanjung Anom sebagai tapak perancangan project arsitektur dalam workshop ini. Mengingat bahwa jalan tersebut merupakan salah satu penghubung antara keramaian di Jalan Tunjungan, dengan kampung-kampung yang eksis,” katanya.
Bram menyebut jika pihaknya ingin saling berdiskusi terkait desain arsitektur yang bisa menjadikan Tanjung Anom sebagai salah satu sarana yang menghubungkan, mensejahterakan, dan bahkan menyehatkan kawasan Jalan Tunjungan dan Kampung Blauran.
Baca Juga: UE dan UNESCO Dukung Liputan Berkualitas Jelang Pemilu 2024
Ia merinci, desain Biophilia akan menjadi pisau analisis dalam merancang bentuk arsitektur dari Tanjung Anom. Desain Biophilia adalah pendekatan desain arsitektur yang bertujuan untuk mengintegrasikan alam dan elemen natural, ke dalam perancangan bangunan.
“Pendekatan itu terbukti berdampak positif pada kesehatan dan kesejahteraan manusia di dalamnya,” jelas Bram. [ipl/ian]






