Malang (beritajatim.com) – Dewan Pers menyambangi berbagai kampus di Indonesia dalam rangka mengajak mahasiswa untuk memahami kemerdekaan pers. Terbaru, Dewan Pers sambang ke Universitas Brawijaya (UB) untuk mengadakan talk show bertema ‘Kemerdekaan Pers, Jurnalisme Warga, dan Peran Media Sosial.’
Acara ini berlangsung di Aula Nuswantara Fakultas Ilmu Sosial (Fisip) UB, Kamis (12/10/2023). Acara talk show menghadirkan tiga pembicara yaitu, Atmaji Sapto Anggoro yang juga anggota dewan pers, Prof. Rachmat Kriyantono selaku ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UB, dan Fatoni P. Nanda selaku pemimpin redaksi Radar Malang.
Asmono Wikan, anggota dewan pers sekaligus penanggungjawab acara sambang kampus menjelaskan bahwa saat ini mahasiswa yang tergolong generasi zilenial tidak banyak yang mengkonsumsi media arus utama. Banyak riset menunjukkan bahwa konsumsi pers telah dicounter media sosial.
“Teman-teman kampus tidak banyak lagi yang mengkonsumsi media arus utama Banyak riset menunjukkan bahwa konsumsi pers dicounter medsos. Kita semua tahu industri pers sedang tidak baik baik saja. Pada hari ini di hadapan 150-an mahasiswa, kita akan pahami bersama relasi antara dewan pers, pers, dan medsos,” ujar Asmono.
Pada akhir acara, ada speech panel mahasiswa tentang Zilenial Memandang Kemerdekaan Pers dan Jurnalisme Indonesia Masa Depan dalam Perspektif Kritis. Ditambahkan juga, selain talk show dewan pers juga mengadakan coaching clinic bersama pers mahasiswa se-Malang Raya di hotel Swiss Bell Inn Malang. Besok 13 Oktober 2023 diadakan FGD tentang pemantauan media.
BACA JUGA:
Temui Dewan Pers, AMSI Tanyakan Kelanjutan Publisher Right
Sementara itu, Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu, menjelaskan bahwa sambang kampus ini sebagai cara untuk pihaknya masuk dan bersinergi dengan kampus. Menurutnya, ekosistem pers Indonesia tidak bisa tanpa kampus karena kampus harus terlibat.
“Peran pers kita harus akuntabilitas dan responsibilitas, apakah pers kita sudah mampu memberikan pendidikan dan pemberdayaan intelektual publik? Kampus menjadi salah satu poros ikut memikirkan itu. Kampus juga akan melahirkan pers kita di masa depan untuk membantu proses demokrasi,”
Ia berpesan juga kepada jurnalis warga agar dalam melakukan pemberitaan tetap berpijak pada kode etik pers yang berkualitas. Karena pers pilar keempat demokrasi. Ia mengutip John Locke soal tiga pilar demokrasi, eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

“Pasca pemilu 98, pilar terakhirnya adalah pers. Kebebasan berekspresi. Dulu otoritarian negara boleh membredel pers, koran tiba-tiba hilang yang belum dicetak dilarang naik, atau izinnya dicabut. Sejak ada pasal 40 tahun 1999 , maka kemerdekaan pers telah diatur,” kata Ninik saat sambutan.
Pers menurutnya perlu menyajikan informasi yang benar kepada publik. Buka miss informasi, diss informasi, atau bahkan hoax. Tugas, peran, dan fungsi pers adalah dignity alias martabat atau marwah kemanuisaan.
“Jika melakukan kesalahan adalah membuild agar kembali ke sisi kemanusiannya. Maka itu konsep pers tidak boleh lagi merendahkan martabat manusia. Pers apakah sudah memfungsikan itu? Dalam memberitakan orang tidak merendahkan orang,” ujarnya.
Ketua Dewan Pers berharap agar UB dapat memberikan penghargaan kepada insan pers yang melahirkan karya berkualitas. Selain itu, UB diharapkan memberi rekognisi pendidikan formal kepada insan pers.
BACA JUGA:
Dewan Pers: Pendaftaran Perusahaan Pers Berbeda dengan Pendataan
Harapan Dewan Pers ditanggapi oleh Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., selaku Rektor UB. Ia menyambut berbagai kerjasama ke depan. Pers, menurutnya tidak hanya pilar demokrasi dan terlihat sejarah perjuangan Indonesia, tetapi juga penting untuk terlibat membangun peradaban.
“Ada hal yang penting, masyarakat kita bisa mendapat informasi yang sangat baik harus bisa memberi kesempatan membangun peradaban lebih baik. Keterlibatan UB dalam riset tentang pers ini penting,” ujar Prof Widodo.
Pihaknya juga berjanji akan memberi rekognisi dan pendidikan formal maupun informal juga penting kepada Insan pers. “Jadi kami nanti juga berharap ada mahasiswa kami yang bisa magang di dewan pers,” terang Rektor UB. [dan/suf]






