Malang (beritajatim.com) – Hasil ekspedisi dan penelitian lima mahasiswa dari Universitas Brawijaya (UB) terbilang menarik. Pasalnya, mereka berhasil mengungkap soal praktik pesugihan dan berbagai pengalaman gaib di Gunung Kawi, Malang.
Penelitinya adalah Muhammad Harun Rasyid Al Habsyi, Zulfikar Dabby Anwar, Suntari Nur Cahyani, Anggi Zahwa Romadhoni, dan Andini Laily Putri, dari Fakultas Pertanian maupun dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Mereka dibimbing oleh Destyana Ellingga Pratiwi, SP., MP., MBA.
Tim ini mengungkap adanya ikatan praktik mistisisme di Gunung Kawi dengan gangguan mental, seperti skizofrenia psikosis. Andini Laily dari jurusan Psikologi UB menjelaskan bahwa gunung Kawi sangat terkenal dengan kearifan lokal dan nilai budaya.
Baca Juga: Ayah Ronald Tannur Akui Kesalahan Anaknya, Edward Tannur: Supaya Pihak Korban Merasa Puas
“Gunung ini jadi magnet bagi individu yang tertarik dengan aspek mistis. Sebagian masyarakat menggunakan Gunung Kawi sebagai tempat untuk memperdalam ilmu hitam, kesaktian, bahkan pesugihan,” ujar Andini melalui keterangan tertulis, Selasa (10/10/2023).
Praktik pesugihan di Gunung Kawi juga melibatkan pemberian tumbal dengan bantuan makhluk gaib. Dalam penelitiannya, tim mahasiswa melakukan wawancara dengan sejumlah informan terpilih yang pernah punya pengalaman ritual di Gunung Kawi.
Hasil penelitian mengungkap bahwa banyak dari mereka melaporkan pengalaman tidak biasa seperti mendengar suara. Bahkan ada juga yang merasa melihat sosok yang tidak dilihat orang lain.

“Kami menemukan seorang kerabat dari pelaku ritual pesugihan, yang enggan disebutkan namanya, menyampaikan kenyataannya: jeda dari melakukan hal itu, satu minggu kemudian kenyataan gitu loh, mau dibilang itu halusinasi atau apa toh memang ada pembuktiannya begitu,” kenang Andin.
Baca Juga: Ayah Ronald Tannur Akui Kesalahan Anaknya, Edward Tannur: Supaya Pihak Korban Merasa Puas
Hasil penelitian tim menemukan, tidak jarang ritual pesugihan Gunung Kawi erat kaitannya dengan kondisi psikis pelaku. “Bahkan kerabat terdekat pelaku mengalami bisa halusinasi, seperti yang saya ceritakan,” lanjutnya.
Pihaknya sebagai peneliti saat ini terus menganalisis data yang diperoleh. Temuan awal menunjukkan keterkaitan yang signifikan antara ritual pesugihan Gunung Kawi dan kondisi psikologis pelakunya.
Meskipun begitu, penting diketahui bahwa proses diagnosis resmi dari para ahli seperti psikiater atau psikolog masih diperlukan. Hal itu untuk memverifikasi gangguan mental yang dialami.
Baca Juga: Dukung Pembangunan Daerah, PT Ajinomoto Kolaborasi dengan Pemkab Mojokerto dalam Program ASV
Penelitian ini diharapkan bisa memberikan perspektif baru terkait praktik ritual pesugihan Gunung Kawi dari sudut pandang psikologis. Temuan ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan strategi rehabilitasi bagi pelaku pesugihan Gunung Kawi.
“Penelitian kami ini coba membuka pengetahun baru soal topik yang masih dianggap tabu di Indonesia. Ini menjadi kontribusi berharga dari mahasiswa UB,” tutup Andin. (dan/ian)






