Kegiatan ini sebenarnya adalah bagian dari Mata Kuliah Pengembangan Produk Baru di Program Studi Teknologi Hasil Pertanian. Namun pada akhirnya, ini bukan sekadar mata kuliah, namun tradfisi intelektual dan upaya menumbuhkan pemahaman terhadap pentingnya diversifikasi produk pangan olahan.
“Bahan yang digunakan adalah bahan produk pangan lokal. Keunggulannya di sana. Jadi sesuai dengan misi Universitas Jember, glokalisasi. Jadi produk-produk lokal bisa bersaing di kancah internasional,” kata Koordinator Program Studi Teknologi Hasil Petanian Lailatul Azkia, saat ditemui di sela-sela pameran, Rabu (10/6/2026).
Tahun ini ada 24 produk pangan inovatif yang fungsional dan bergizi yang disajikan dalam pameran di halaman kampus FTP. Sebagian di antaranya berbahan dasar edamame, labu kuning, kacang merah, dan kacang tolo.
Pada kategori minuman sehat, terdapat Es LumiSoy (susu kedelai lumut bunga telang) dan Purple Oat. Untuk kategori camilan renyah, hadir Opakame (opak edamame), Edacris, Crube, dan Chibee Rolls. Sementara kategori kudapan modern menghadirkan Carrofin (muffin sayur), BluAyu Brulee, Nagaren Roll, Vesavo, dan produk fungsional Sachika yang berbahan sagon, chia seed, dan kurma.
Selain membuat produk iniovatif, para mahasiswa diminta memasarkan produk itu. “Mereka menjadi entrepreneur sejati yang menciptakan produk inovasi mereka sendiri,” kata Azkia.
FTP Unej sebenarnya memiliki unit usaha Fateta Bakery. Namun tidak semua produk mahasiswa bisa diterima di sana, karena tidak semua produk olahan mahasiswa adalah pangan berbahan dasar tepung.
Produk olahan mahasiswa akhirnya ditawarkan kepada sejumlah perusahaan mitra. Tahun ini kegiatan ini sepenuhnya disponsori dan didukung PT Mekar Asta Nusantara.
“Kami tawarkan ke mitra mana yang bisa dikolaborasikan. Jadi adik-adik mahasiswa punya idenya, nanti model kolaborasinya silakan adik-adik mahasiswa sendiri langsung berkomunikasi, karena hak cipta ada pada mereka, bukan kampus,” kata Azkia.
Tahun ini ada tiga produk yang menarik perhatian perusahaan mitra FTP. Azkia mempersilakan mahasiswa untuk bernegosiasi sendiri dengan mitra. “Kami tidak ambil alih, katena ini hasil pembelajaran mereka. Kami memberi keluasan kepada mahasiswa untuk memiliki hak cipta sendiri,” katanya.
Para dosen FTP Unej hanya membimbing para mahasiswa untuk membuat produk yang layak secara fungsional dan layak edar. Sejauh ini, menurut Azkia, mitra menilai produk-produk olahan mahasiswa layak dijual di pasar.
“Tapi memang adik-adik mahasiswa belum mengujikan untuk masa simpan. Nah, itu mungkin nanti yang bisa dikerjasamakan dengan pihak mitra,” kata Azkia.
Rektor Unej Iwan Taruna yang juga dosen FTP mengapresiasi tinggi kreativitas para mahasiswa. “Langkah mahasiswa FTP menyulap produk sampingan kopi menjadi camilan sehat bermutu tinggi adalah bentuk nyata dari hilirisasi riset kampus yang solutif. Universitas Jember berkomitmen penuh mendukung kreativitas yang menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan pasar,” katanya.
Menurut Iwan, inovasi itu adalah bukti nyata bahwa proses akademik di UNEJ mampu merespons tantangan di masyarakat dan industri secara langsung. “Sinergi dengan mitra industri seperti ini juga sekaligus mengakselerasi pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) universitas kita, khususnya dalam menghasilkan lulusan yang siap berkarya dan berwirausaha,” katanya. [wir/aje]






