Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar ITS Prof Wahyu Wibowo mengkaji sebuah metode yang tepat untuk meningkatkan akurasi pemodelan regresi melalui pendekatan semiparametrik spline.
Pada orasi ilmiahnya berjudul Semiparametrik Spline: Strategi Peningkatan Akurasi Pemodelan Regresi dalam Kerangka Evidence Based Decision Making (EBDM), ia menekankan pentingnya analisis suatu data.
Guru besar Departemen Statistika Bisnis, Fakultas Vokasi ITS tersebut mengatakan bahwa dewasa ini, analisis data menjadi dasar proses pengambilan keputusan bisnis yang lebih dikenal dengan konsep EBDM.
Kata dia, pemodelan regresi yang berperan penting sebagai dasar pengambilan keputusan tersebut masih memiliki permasalahan, yakni dalam penentuan fungsi regresi yang paling akurat.
Alumnus S1 Statistika ITS itu menyebut jika fungsi dapat dikatakan akurat ketika memiliki kemampuan untuk menjelaskan hubungan antara variabel respon dan prediktor dengan kesalahan yang minimum.
“Menurut saya, pendekatan semiparametrik menggunakan fungsi spline dapat mengatasi permasalahan tersebut,” tutur Prof Wahyu ditulis Kamis (21/9/2023).
Ia menilai, model semiparametrik berakurasi tinggi dan mudah diinterpretasikan. Fungsi itu tidak terlalu kompleks. “Fungsi spline bersifat adaptif dan fleksibel terhadap pola hubungan yang terbentuk antarvariabel,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa inovasinya tersebut tidak terbatas hanya bisa diimplementasikan dalam dunia bisnis, tetapi juga bisa diterapkan dalam bidang industri hingga pemerintahan.
Baca Juga: ITS Kukuhkan 6 Guru Besar untuk Tingkatkan Daya Saing Penelitian
Melalui orasi ilmiah pengukuhannya sebagai profesor, ia mengimplementasikan modelnya dalam bidang ekonometrika, untuk menganalisis kesenjangan pembangunan antarprovinsi di Pulau Jawa.
Dalam analisisnya, Kepala Departemen Statistika Bisnis ITS itu menggunakan beberapa variabel prediktor, yakni investasi, tenaga kerja, indeks pendidikan, serta indeks teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Dari variabel prediktor itu, Wahyu mencoba mencari hubungannya dengan variabel respons, yakni indeks disparitas atau perbedaan pendapatan enam provinsi di Pulau Jawa tahun 2010 hingga 2019.
Ketika dianalisis menggunakan fungsi spline dengan pendekatan semiparametrik, diperoleh hasil bahwa variabel investasi pada awalnya menurunkan kesenjangan.
Namun, investasi dapat meningkatkan kesenjangan setelah mencapai titik tertentu. “Sementara grafik pada variabel lain hanya mendatar dan tidak terjadi perubahan yang signifikan,” paparnya.
Setelah melakukan analisis, ia menyimpulkan bahwa investasi memiliki kaitan erat terhadap kesenjangan antarprovinsi. Sementara variabel prediktor lain, yakni indeks pendidikan, indeks TIK, dan tenaga kerja belum berpengaruh signifikan dalam menjelaskan kesenjangan pembangunan antarprovinsi di Jatim.
Ia juga berencana agar model ini bisa diterapkan dalam suatu dashboard yang berguna dalam pengambilan keputusan. “Semoga semua pihak, khususnya pemerintah dapat memanfaatkan model ini untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan,” tuturnya. [ipl/ted]






