Ngawi (beritajatim.com) – Kekeringan di Kabupaten Ngawi kini sudah meluas sampai ke 14 desa di enam kecamatan. Desa-desa tersebut sudah memohon bantuan air bersih ke pemkab setempat. Utamanya untuk memenuhi kebutuhan minim dan memasak.
Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi Partoyo mengatakan bahwa bulan lalu, hanya sekitar delapan desa saja yang sudah meminta bantuan air bersih karena sumur mengering. “Sekarang sudah 14 desa yang meminta bantuan air bersih. Kami kirim dua kali seminggu. Tergantung permintaan dari pemdes setempat,” kata Partoyo.
Desa tersebut yakni Sumberbening, Kenongorejo dan Suruh serta Bringin, di Kecamatan Bringin. Kemudian, Desa Gunungsari di Kecamatan Kasreman. Ada pula Desa Kerek dan Banyu Urip di Kecamatan Ngawi.
Desa Banjarbanggi, Bangunrejo Lor, Papungan dan Desa Cantel di Kecamatan Pitu. Juga, Desa/Kecamatan Mantingan. Desa Karanganyar dan Pandean di Kecamatan Karanganyar. Selain dari BPBD Ngawi, pengiriman air juga dibackup dari PMI Ngawi. Sehingga, bantuan air bisa merata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sebelumnya diberitakan, krisis air bersih dialami 90 KK atau setara 300 jiwa di Dusun Glagahselang Desa Papungan Kecamatan Pitu Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Mereka mengandalkan rembesan air sungai. Yang mampu, membeli air isi ulang.
Sugiati, salah seorang warga setempat mengatakan belakangan mereka sudah kesulitan air. Utamanya untuk keperluan mandi cuci kakus (MCK).”Nyarinya air sulit banget mau masak mandi mau ke wc saja sulit air sudah tiga pekan ini setiap hari nyari rembesan air di sungai karena sumur kering semua,” kata Sugiati, Selasa (12/9/2023).
Hingga akhirnya, pemerintah desa setempat memohon bantuan air pada Pemkab Ngawi. Mereka pun mendapatkan bantuan air dari BPBD Ngawi.
Namun, bantuan air itu masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air warga. Karena, tak bisa datang tiap hari. Pun, air bantuan BPBD itu digunakan untuk keperluan minum dan memasak. Jika tak ada bantuan air yang datang, terpaksa mereka mencari rembesan sungai yang masih terdapat air untuk keperluan MCK.
“Tiap hari kami bawa jerigen kesana kemari menunggu satu jam baru dapat sedikit air untuk minum masak. Kami kadang mandi disungai kalau tidak ada bantuan ya bikin lubang di sungai,” kata Sunarti, warga lainnya.
Lamiran, Ketua RT setempat mengatakan bahwa mayoritas warganya mengandalkan rembesan sungai. Ada pula yang membeli air isi ulang. “Total 90 KK yang mengalami kseulitan air bersih. Untuk minum masak kadang beli air isi ulang. Kalau untuk mandi kadang ke sungai. Kami mengharap bantuan air bersih ini bisa datang terus,” katanya. [fiq/kun]
BACA JUGA: Sumur Mengering, 90 KK di Pitu Ngawi Sempat Andalkan Rembesan Sungai






