Yogyakarta (beritajatim.com) – Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 sudah di depan mata. Berbagai gerakan dan kejutan kaitan manuver politik menjadi hal yang ditunggu masyarakat.
Jelang Pilpres 2024 ini akan banyak sekali kejutan kejutan yang mungkin tak ada dalam bayangan warga. Setelah sebelumnya deklarasi Anies Baswedan yang berpasangan secara tiba tiba dengan Cak Imin kemudian berdampak membuat sakit hati kader Demokrat karena sebelumnya Anies Baswedan meminang AHY menjadi calonnya kini peta telah berubah.
Terbaru adalah statemen Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang menyatakan peluang cawapres Ganjar Pranowo terbuka lebar dari kalangan manapun. Akan sangat memungkinkan nanti Ganjar Pranowo berpasangan dengan tokoh pondok pesantren atau dari kalangan religius seperti halnya Jokowi yang tiba tiba dan mendadak memilih pasangan Cawapres KH Mahruf Amin. Hal ini karena situasi politik itu dinamis.
Menanggapi hal ini Nastain Muhamad, pengajar Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia (Fikomm) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) sekaligus Peneliti Data Politik Indonesia menuturkan rumor yang berkembang terkait dengan pasangan Ganjar Pranowo akan menggandeng dari kalangan pesantren sudah cukup santer terdengar.
“Mungkin juga menjadi jawaban atas situasi yang terjadi di internal NU ketika Cak Imin menjadi cawapres Anies Baswedan yang menuai pro dan kontra,” jelasnya.
BACA JUGA:
Hasto: Memungkinkan, Nama Baru Jadi Pendamping Ganjar
Pemilihan dari kalangan pesantren dan NU tentu menegaskan bahwa pasangan Nasionalis Religius masih menjadi pasangan ideal untuk memperoleh dukungan publik.
Selain itu pemilihan Cawapres dari kalangan relijius akan mampu menutupi celah dari Ganjar Pranowo yang sering mendapat serangan negative dalam issue agama, issu film porno yang sering menjadi senjata untuk menyerang Ganjar dan beberapa isu negatif lain.
Counter isu yang dilakukan oleh relawan Ganjar dengan menampilkan kedekatan Ganjar dengan keluarga pesantren juga tidak cukup ampuh dalam meredakan isu di atas.
“Oleh karena itu menurut saya, pemilihan Cawapres dari kalangan relijius akan menjadi jawaban. Jika benar bahwa cawapres nanti seperti yang belakangan ini muncul yaknj Menteri agama yakni Yaqut Cholil Qoumas maka saya kira sangat wajar dan memiliki vibes atau getaran positif ketika disandingkan dengan Ganjar Pranowo,” urainya.
BACA JUGA:
Kiai Muda Ganjar Salurkan Air Bersih Bantu Majelis Taklim
Disinggung soal Yaqut Cholil Qoumas, Nastain menegaskan ada dua catatan positif tentang sosok yang menjabat sebagai Menteri Agama ini di mata masyarakat Indonesia.
Pertama, sebagai ketua badan otonom NU (Banser) Yaqut memiliki massa akar rumput dengan militansi tinggi. Kedua, pemilihan cawapres dari kalangan internal NU akan membuat peta pemilih NU terpecah.
Perpecahan peta pemilih NU menyebabkan sisi positif dari kalangan capres diluar Anies Baswedan dan Cak Imin. Kemunculan meme seperti “NU ora kudu milih Cak Imin” secara objektif menandakan bahwa sebenarnya NU di luar PKB Cak Imin masih memiliki peluang tinggi untuk memilih capres dan cawapres sesuai dengan hati nurani mereka sendiri tanpa ada paksaan dari partai. [aje/beq]






