Yogyakarta (beritajatim.com) – Menghadapi Pemilu 2024 yang akan diselenggarakan di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berbagai langkah antisipasi telah diambil untuk menjaga kondusifitas proses demokrasi tersebut. Pihak-pihak terkait seperti Bawaslu, KPU, Polres Bantul, dan jajaran Forkopimda telah berdiskusi dan merencanakan upaya pencegahan potensi kerawanan.
Menurut Plt. Ketua KPU Bantul, Joko Santoso, verifikasi calon anggota DPRD Kabupaten Bantul saat ini sedang berlangsung, dan kampanye yang bersifat tertutup akan dimulai pada tanggal 28 November mendatang. Dalam persiapan ini, KPU Bantul juga telah menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 742.074 pemilih, dengan 3.166 Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang tersebar di 75 kelurahan dan 17 kecamatan.
“Pemilu bukan hanya hajatan dari KPU, tetapi hajatan bersama dan diharapkan peran serta dan dukungan dari semua pihak untuk mendoakan penyelanggeraan Pemilu dapat berjalan sukses,” ujar Joko Santoso.
Potensi kerawanan yang telah diidentifikasi berdasarkan pengalaman Pemilu sebelumnya adalah munculnya kerawanan menjelang hari pemungutan suara. Salah satu contoh kerawanan adalah pemilih dari luar Bantul yang ingin menggunakan hak pilihnya di daerah tersebut. Untuk mengakomodir hal ini, sejumlah Tempat Pemungutan Suara Lokasi Khusus (Loksus) telah disiapkan, termasuk di kampus dan pesantren, untuk memudahkan mahasiswa dan santri yang tidak dapat menggunakan hak pilihnya di daerah asal.
Ketua Bawaslu Bantul, Didik Joko Nugroho, mengatakan bahwa Bawaslu akan fokus pada upaya pencegahan agar tidak terjadi konflik selama Pemilu. Mereka juga telah memetakan indeks kerawanan terkait dengan politik uang, pemilih di luar negeri, media sosial, netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN), dan politisasi isu SARA. Bawaslu berharap Pemilu di Bantul dapat berjalan dengan damai dan sesuai dengan prinsip gotong royong.
BACA JUGA:
Satlantas Polres Bantul Melayani Pembuatan SIM D untuk Warga Difabel
“Kami berharap Pemilu di Bantul bisa menjadi ayem tentrem dengan asas yang sudah disampiakan Bupati Bantul, yaitu gotong royong,’ beber Didik.
Kapolres Bantul, AKBP Michael R Risakotta, menekankan pentingnya menjaga perdamaian selama Pemilu 2024. Ia berharap para tokoh agama dan masyarakat dapat berperan aktif dalam mencegah provokasi dan penyebaran berita palsu (hoaks). TNI dan Polri juga akan bersinergi dalam mengamankan Pemilu dan memastikan masyarakat tidak terprovokasi oleh hoaks.
“Diharapkan nantinya, para tokoh agama dan tokoh masyarakat dapat menyampaikan kepada umatnya dan seluruh masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dengan berita berita hoaks,” ujar dia.
BACA JUGA:
Bawaslu Bantul Petakan Kerawanan Tahapan Pemilu 2024
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menyatakan bahwa Pemilu adalah hajatan demokrasi yang digelar setiap lima tahun. Ia mengajak semua pihak untuk menjaga harmoni dan sinergi dalam perbedaan pilihan politik. Halim menekankan bahwa berbeda adalah hal yang biasa dalam demokrasi, dan masyarakat harus melewati proses Pemilu dengan dewasa dan damai.
“Kita telah memiliki pengalaman yang panjang tentang demokrasi, mestinya membuat kita menjadi lebih dewasa. Berbeda itu adalah hal yang biasa saja, tidak perlu baper-baper-an, karena gelem ora gelem, seneng.ora seneng kita memang harus melewati prosedur demokrasi yaitu Pemilu,” tutupnya. [aje/but]






