Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Ubaya menciptakan alat bantu berpakaian bagi tuna daksa bernama ‘dr-MATE; Dressing Mate’. Inovasi ini untuk meningkatkan kemandirian dan privasi berpakaian.
Inovasi itu dirancang oleh Angeline Arista, Yudi Crismanto, Lay Richii Wijaya, Christoforus Rafael, dan Deviano Sutanto. Mereka adalah mahasiswa Program Studi Teknik Mesin dan Manufaktur Fakultas Teknik Ubaya.
Ide pembuatan inovasi ini berangkat dari adanya kesulitan para penyandang tunadaksa dalam berpakaian. Khususnya bagi mereka yang kehilangan kedua lengan akibat amputasi. “dr-MATE hadir untuk meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri, serta menjaga privasi mereka dalam berpakaian,” ujar Angeline, Kamis (7/9/2023).
Angeline mengungkapkan bahwa dr-MATE adalah pengembangan dari hasil inovasi sebelumnya. Timnya hanya menambahkan fungsi alat yang bisa dipakai tuna daksa untuk memakai baju dan celana.
Inovasi ini sudah dilengkapi tiga kontroler, yakni remote, aplikasi android, dan voice commands. Aplikasi android itu bertujuan agar alat ini bisa dipakai pendamping dari tuna daksa untuk membantu dari tempat yang berbeda.
Angeline menambahkan, dr-MATE bisa digunakan untuk menaruh baju pada tempat yang disediakan. Baju bisa dilonggarkan dengan tombol memakai kaki atau voice commands dengan kata sandi ‘open device’.
Setelah itu, tombol ditekan ke atas untuk menaikkan baju atau menyebut ‘going up’. Jika ketinggiannya sudah sesuai tinggi badan, maka pengguna bisa berdiri dan mengarahkan kepala ke lubang leher kaos. “Dari situ, kemudian pengguna dapat menekan tombol ke bawah atau menyebut ‘going down’ untuk memasang baju secara keseluruhan,” jelas Angeline.
Sedangkan untuk pemakaian celana, lanjut Angeline, pengguna bisa menempelkan pinggul celana ke lengan bermagnet dan dibuka menggunakan tombol atau voice commands.
Kemudian, kaki dimasukkan ke dalam celana. Lalu naikkan lengan bermagnet sampai ketinggian yang diinginkan, lalu lepaskan celana. “Pengguna disarankan memakai celana yang memiliki kancing magnetik agar lebih mudah,” kata Angeline.
Dibantu dosen pembimbing Sunardi Tjandra, proses perancangan dr-MATE memakan waktu sekitar tiga bulan. Inovasi ini juga berhasil meraih juara tiga di ajang Engineering Innovation Challenge 2023 di Singapura.
Ke depan, dr-MATE ditargetkan bisa diaplikasikan langsung pada tuna daksa di rumah, rumah sakit, maupun tempat rehabilitasi. Angeline berharap, inovasi ini dapat memberikan dampak positif yang besar dalam bidang kesehatan.
“Kami juga berharap alat ini dapat bermanfaat bagi para penyandang tuna daksa untuk baik yang kehilangan kedua lengan karena amputasi maupun bawaan sejak lahir, untuk mempermudah dalam berpakaian. Selain itu, diharapkan mampu membantu proses pemulihan psikologis dan rehabilitasi tuna daksa,” pungkasnya. [ipl/kun]
BACA JUGA: Mahasiswa Ubaya Juara Debat Bawaslu di Jakarta






