Yogyakarta (beritajatim.com) – Artificial Intelligence (AI) akhir akhir ini marak dibicarakan orang. Kecanggihan teknologi menjadikan AI menjadi banyak ragam utamanya disinyalir dapat membantu pekerjaan manusia.
Hal ini terbukti pada sebuah stasiun televisi telah ditampilkan presenter yang menggunakan teknologi AI. Atas kecanggihan teknologi ini banyak yang khawatir dengan AI ini akan menggantikan pekerjaan manusia sehingga manusia menjadi tidak berguna dan kalau dengan teknologi AI.
AI digadang-gadang mampu menggantikan 375 jenis lapangan pekerjaan dalam perkembangannya. Kondisi ini tentu menuntut upaya besar untuk mengembangkan keterampilan pekerja yang baru agar lapangan pekerjaan tetap tersedia.
Baca Juga: Skill Bisnis Anak Muda Banyuwangi Makin Matang Jadi Jagoan Digital
Namun disisi lain kecanggihan AI juga membuat sebagian kalangan was-was posisi pekerjaan yang selama ini sudah dijalaninya bakak tergeser dengan AI.
Syaifa Tania, S.I.P., M.A Dosen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM menuturkan ada empat hal utama yang menjadi tantangan berkembangnya AI. Pertama, imbuh Tania yakni proteksi konsumen terhadap produk dan layanan yang digunakan.
Selanjutnya privasi, berikut misinformasi seperti hoax dan news diversity atau personalisasi berita yang memungkinkan institusi berita dan audiens sama-sama meraih keuntungan.
“Kemudian ada lagi online targeting and community standard,” terang Tania.
Baca Juga: Elnusa Rampungkan Survei Seismik di Laut Papua Barat Daya
Layanan AI yang cenderung melakukan personalisasi informasi menyebabkan individu terpapar banyak informasi sejenis, sehingga muncul hambatan untuk mendapatkan informasi yang berbeda. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa hoaks saat ini mudah tersebar.
Tania menegaskan salah satu contoh penerapan AI di industri komunikasi adalah iklan.
“Jadi AI digunakan untuk mengakses konten media. Ini menjadi salah satu contoh yang familiar kita temui. Ketika kita sama-sama membuka satu website, bisa jadi iklan yang saya terima dengan yang anda terima itu beda meskipun website nya sama,” ucap Tania.
Menurutnya, automatisasi AI untuk memenuhi kebutuhan individu secara khusus inilah yang membuat AI banyak dipakai dalam industri. Kapabilitas ini membantu industri menemukan target pasar yang tepat, hingga informasi tersampaikan dengan efektif.
Dari sisi teknologi imbuh Tania, AI bukanlah hal baru di industri komunikasi. Sejak berkembangnya teknologi digital, AI banyak digunakan dalam berbagai sistem informasi.
Baca Juga: Loncat dari Lantai Dua, Korban Kebakaran BBPMP Jatim Dirawat Intensif
Baru-baru ini, AI dalam bentuk ChatGPT menjadi populer di kalangan mahasiswa karena kemampuannya mengumpulkan informasi dengan cepat. Tapi di sisi lain, perkembangan AI menuai pro kontra di kalangan ahli.
“AI kalau kita bayangkan dulu itu jauh ya dengan sekarang. Kalau dulu itu kita bayangkan AI sangat canggih hingga tidak semua orang bisa menggunakan. Tapi sekarang justru AI sudah menjadi bagian dari hidup kita. Tentunya di samping kapabilitasnya, ada berbagai tantangan yang muncul,” bebernya.
Salah satu alumnus Departemen Ilmu Komunikasi UGM Rosinski Hiro, S.I.P., M.Sc juga memberikan gambaran bagaimana AI memengaruhi hidup manusia.
Rosinski menegaskan AI mungkin bisa menawarkan informasi yang lebih cepat, murah, dan banyak. Tapi manusia lebih bisa memberikan informasi secara tepat, berkualitas dan relevan.
Baca Juga: Update Kondisi Gedung BBPMP Jatim Pasca Terbakar Hebat, Sisakan Puing
Kalau dibanding manusia, relevansi informasi dari AI masih sangat jauh. Baginya, AI tidak perlu diposisikan sebagai ancaman, justru fokus yang harus dilakukan adalah bagaimana AI bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.
“Kalau kita bicara tentang industri, pekerjaan, profesi maka kita perlu mengenal dua konsep. Pengetahuan kita itu adalah modal utama kita, sedangkan informasi adalah komoditas. Komoditas ini tentunya sudah diakuisisi oleh Google, Instagram, atau sekarang META ya. AI selamanya tidak akan pernah menggantikan manusia, tapi manusia yang menggunakan AI lah yang akan lebih unggul,” tuturnya. (Aje/ian)






