Gresik (beritajatim.com) – Untuk kesekian kalinya produsen coklat dan kakao bertaraf internasional PT Cargil Indonesia bersama jurnalis Gresik menggelar dialog terbatas. Dalam kegiatan itu juga turut mengundang Irfan Wahyudi Dosen Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) serta CEO Kapanlagi Younivers Wenseslaus Manggut.
Dialog yang membahas teknologi Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan, dan tantangannya bagi dunia jurnalis menarik untuk dibedah.
Salah satu narasumber, Irfan Wahyudi, ahli kajian komunikasi dan masyarakat Universitas Airlangga mengatakan, praktik AI di dunia Jurnalisme ini sudah dimulai, seperti pembaca/pembawa berita, alias News Anchor.
Baca Juga: Ganjarian Yakin Ganjar-Mahfud Raih 64 Persen Suara Pemilih di Jatim
Namun, tidak serta merta peran manusia bisa diganti dengan AI, tetapi lebih pada pembagian peran yang setara.
“AI adalah mesin bahasa, bukan mesin kebenaran, faktor manusia masih sentral dalam industri media. Konkritnya AI tidak mungkin bisa turun ke lapangan melakukan reportase dan memverifikasi peristiwa yang belum terekam di dunia digital,” tuturnya, Rabu (18/10/2023).
Sementara itu, narasumber lain yakni CEO Kapanlagi Younivers Wenseslaus Manggut menuturkan, adanya AI bisa menjadi peluang bagi industri jurnalisme untuk mensuplai bahan data bagi perusahaan AI.
Kak Wens sapaan akrabnya menambahkan, memang AI bisa mensistematisasi data – data dan sangat cepat dalam membantu riset atau membuat produk jurnalistik, baik teks, foto, video atau Infografik. Tapi data-data yang dikumpulkan AI biasanya yang sudah ada di database digital.
Baca Juga: Rajut Kebudayaan, Ratusan Warga Bali Kunjungi Candi Singosari
“Kalau misalnya teman-teman wartawan melakukan reportase tentang informasi yang baru, seperti jujukan tempat makan enak di Gresik, tentu harus datang ke lokasi, melakukan reportase dan penulisan yang mendalam. Nah itu yang tidak dapat dilakukan AI,” imbuhnya.
Lebih lanjut Wens mengatakan, peluang ada, bila perusahaan AI mau memakai data itu untuk keperluan database pelayanannya ya harus membayar ke media yang menerbitkan.
“Makanya setelah aturan Publisher Rights kita dorong aturan yang mengatur hubungan perusahaan AI dengan perusahaan pers,” katanya. (dny/ian)






