Probolinggo (beritajatim.com) – Anda dapat dengan mudah menemukan Galeri Batik Larasati yang terletak di Kota Probolinggo. Hanya sekitar 50 meter dari perempatan Randupangger, Anda perlu bergerak ke arah utara. Galeri ini menghiasi tepi Jalan Serma Abdurrahman dan dimiliki oleh Mujiono. Meskipun ruangnya hanya berukuran 4 x 6 meter, koleksi batik yang disajikan sangat beragam dan menarik bagi para pecinta batik. Yang menarik, setiap karya batik tulis oleh Mujiono memiliki sentuhan uniknya sendiri, bahkan saat dikerjakan dalam waktu dan tema motif yang sama.
Prestasi luar biasa dicapai oleh Mujiono, yang sering dikenal dengan nama akrab Pak Breng, dalam Jambore Batik di Jember baru-baru ini. Ia berhasil meraih penghargaan Juara Harapan 1 untuk desain sejadah batik ciptaannya. Ini membawa kebanggaan bagi Kota Probolinggo dalam kompetisi yang berlangsung di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Mujiono berkomentar, “Filosofi kami mengutamakan satu desain untuk satu produk. Kami fokus pada keunikan dan orisinalitas desain dalam setiap karya, karena kami beroperasi dengan sumber daya yang terbatas. Oleh karena itu, setiap produk seperti sejadah memiliki desain yang unik. Kami merasa bersyukur atas penghargaan ini.” Ia juga adalah ayah dari lima anak.
Awalnya, pada tahun 2010, Mujiono mulai belajar membuat batik. Namun, pada waktu itu, ia belum bisa sepenuhnya fokus pada batik karena tengah mengembangkan usaha di bidang kuliner. “Ketika kami tidak lagi menerima gaji, kami memiliki rencana jangka pendek dan jangka panjang. Rencana jangka pendek kami adalah memulai usaha ayam betutu, sementara jangka panjangnya adalah batik ini,” tambahnya.
Mujiono dan istrinya, seorang pegawai negeri sipil (ASN) di Pemerintah Kota Probolinggo, bersama-sama memulai usaha batik ini. Karena istrinya memiliki jadwal kerja tetap, Mujiono yang akrab dengan sebutan Pak Breng, aktif mengikuti pelatihan dan belajar dari para ahli batik. Ia menjalani pelatihan di berbagai tempat, termasuk bersama maestro batik di Madura dan Pekalongan.
BACA JUGA:
Pemkab Probolinggo Manfaatkan 4K untuk Atasi Zoonosis
Tahun 2017 menjadi tonggak awal bagi Batik Larasati. Pada saat itu, Mujiono pertama kali berpartisipasi di stan pameran di Museum Probolinggo, memajang hasil karyanya. Di acara tersebut, ia bergabung dengan Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur, yang dipimpin oleh Putu Sulistiani. Lewat asosiasi ini, ia terus belajar dari berbagai sumber dan semakin memahami konsep desain batik secara mendalam.
Mujiono mulai menguji kemampuannya lewat berbagai kompetisi. Karyanya pertama kali muncul dalam kompetisi pembuatan selendang batik. Meski tak meraih kemenangan, karyanya masuk dalam nominasi. Ia mengatakan, “Melalui kompetisi semacam itu, kami belajar dan meraih pengalaman baru yang membantu perkembangan karya batik kami.”
Meskipun tidak memiliki warisan budaya batik secara turun temurun, Mujiono sadar bahwa ia harus memulai dari awal. Ia mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Probolinggo yang selalu mendukung perkembangan Batik Probolinggo dengan melibatkan para perajin seperti dirinya.
“Kami mempelajari teknik batik warna alam. Kami menerapkan pengetahuan ini dalam praktik kami. Bahan alami, baik yang ditemukan di daerah maupun yang dibeli dari luar, menjadi sumber kami. Kami mempelajari dan mencampurkan bahan-bahan tersebut hingga menemukan formula untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Meski banyak percobaan warna yang tidak berhasil, kami puas dengan hasil akhirnya,” ungkapnya.
Karya batik alami ini menarik perhatian desainer Lia Afif, yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Probolinggo. Karya tersebut kemudian dipamerkan dalam JF3 Fashion Week beberapa waktu lalu. Bahkan Aminah Hadi, Ketua Dekranasda Kota Probolinggo, sangat terkesan dengan batik alami karya Mujiono. Ia meminta sebuah karya serupa untuk Wali Kota Probolinggo, Habib Hadi Zainal Abidin.
“Mencapai puncaknya pada Semipro 2023, batik saya ditampilkan di panggung utama dihadiri oleh Ibu Arumi Bachsin dan Ibu Wali Kota. Ini adalah kebanggaan besar. Pemerintah Kota Probolinggo memberikan perhatian besar pada perajin batik, sehingga karya kami dapat diakui secara nasional,” kata Mujiono.
BACA JUGA:
Sempat Digasak Lumajang, Tim Porprov Banyuwangi Mengamuk Lawan Probolinggo
Sebagai perajin batik, Mujiono mengakui dukungan signifikan yang diberikan Pemerintah Kota Probolinggo dalam mengembangkan batik. Ia menekankan pentingnya fokus pada karya dan pengembangan produk. Ia yakin bahwa dengan fokus, karya-karyanya akan diterima dengan baik dan menarik perhatian. Karya-karya batiknya telah menjangkau berbagai tempat seperti Haiti, Amerika, Australia, Paris, dan Singapura.
Mujiono bahkan mengungkapkan contoh konkret dari karyanya yang menggabungkan batik dan bordir, dan berhasil terjual dengan nilai jutaan rupiah di pasar Singapura. “Keberhasilan ini didasari oleh latihan dan usaha keras. Pelatihan yang disediakan oleh pemerintah kami terapkan dalam praktik. Pengetahuan tanpa aplikasi tidak memiliki arti,” tegasnya.
Terkait dukungan pada batik lokal, Fitriawati, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah serta Perdagangan Kota Probolinggo, menjelaskan bahwa pihaknya senantiasa mendukung perkembangan Batik Kota Probolinggo.
“Kami telah melakukan sejumlah langkah untuk memajukan batik. Kami rutin mengadakan pelatihan bagi para pembatik, baik yang berpengalaman maupun yang baru memulai. Pelatihan mencakup pengembangan produk, strategi promosi, dan peningkatan kompetensi para pelaku usaha batik,” ujar Fitri.
Menurut Fitri, karya Batik Larasati sungguh menakjubkan, hingga mampu dipamerkan dalam JF3. “Pilihan warna alam yang menjadi fokus Pak Breng berhasil menarik perhatian Lia Afif. Kain batik miliknya dipesan oleh tim desainer dan diubah menjadi gaun yang dipamerkan dalam JF3 Fashion Week,” tandasnya. [ada/beq]






