Surabaya (beriajatim.com) – Mantan narapidana kasus terorisme, Umar Patek meminta maaf atas kejadian tragis bom Bali I. Insiden tersebut telah merenggut lebih dari 200 nyawa.
Air matanya jatuh saat berhadapan dengan keluarga korban. Dia mengaku merasa bersalah atas peristiwa yang melanda tanah air pada tahun 2000-an.
Sejarah mencatat, insiden bom JW Marriot pada 5 Agustus 2003 tersebut mengakibatkan kurang lebih 12 orang tewas dan 150 jiwa terluka.
“Kalau bom itu saya tidak begitu tahu. Tapi saya tetap meminta maaf untuk teman-teman,” ujarnya.
Diketahui, Umar Patek saat ini merupakan mantan narapidana teroris (Napiter) yang sudah bebas bersyarat.
BACA JUGA: Pendaki Tewas di Gunung Arjuno Mahasiswa Peternakan UB
Setelah bebas bersyarat, dia terlibat dalam berbagai program deradikalisasi di Indonesia, termasuk menjadi anggota Forum Komunikasi Aktivis Akhlakulkarimah Indonesia (FKAAI).
Melalui forum tersebut, Umar Patek bertemu dengan keluarga korban pada Sabtu (5/8/2023) di Plaza Semanggi, Jakarta Selatan.
Berharap Keringanan Saat Yaumul Hisab
Pada pertemuan itu, Umar Patek mewakili seluruh mantan Napiter yang tidak bisa hadir, meminta maaf kepada keluarga korban.
“Kami minta maaf, atas semua dosa-dosa yang kami lakukan kepada bapak ibu semua,” kata Umar Patek di Plaza Semanggi, Sabtu (5/8/2023).
Dia berharap, permohonan maaf ini bisa meringankan bebannya ketika ajal menjemput.
BACA JUGA: Dua Rumah Terbakar di Pulung Ponorogo, Kerugian Ratusan Juta
“Semuanya akan dipertanggungjawabkan di yaumul hisab,” imbuhnya.
Umar Patek mengakui bahwa ia selalu dihantui oleh kesalahannya selama ini. Hal inilah yang membuat Umar Patek ingin bertemu dengan seluruh keluarga korban insiden bom Bali untuk memohon maaf. (nap)






