Jember (beritajatim.com) – Mahasiswa Universitas Jember memperkenalkan puding kelor dan sejumlah makanan olahan berbahan baku daun kelor untuk mencegah stunting (tengkes) kepada masyarakat Desa Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Valentino Dimetri, Koordinator Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif, mengatakan, daun kelor tak hanya cocok untuk sayur bening. “Puding atau agar-agar ini cara membuatnya sangat mudah dan biayanya pun sangat murah,” kata mahasiswa Teknologi Pertanian ini, sebagaimana dilansir Humas Unej, Senin (31/7/2023).
Menurut Valentino, hampir semua toko desa menjual bahan baku puding itu. Sementara itu daun kelor mudah ditemui di Sucopangepok cukup besar. Hampir semua rumah memiliki pohon kelor yang rimbun. “Daripada anak-anak jajan makanan tidak jelas lebih baik jadikan puding kelor sebagai bekal sekolah mereka,” katanya.
“Kalau hanya sayur bening biasanya anak-anak bosan. Berbeda halnya jika kemudian dijadikan jajanan yang enak. Selain bisa dimakan langsung oleh anak-anak juga bisa dibawa ke sekolah sebagai bekal. Pasti mereka lebih suka daripada hanya sekedar sayur bening,” tambah Tria Dewi A.Md, bidan Desa Sucopangepok, menanggapi terobosan para mahasiswa.
Pengenalan ragam makanan daru daun kelor ini diikuti oleh ibu-ibu kader posyandu dab perwakilan dari sembilan dusun, di Balai Desa Sucopangepok. “Kegiatan ini kami lakukan untuk mendukung pemerintah menurunkan dan mencegah terjadinya kasus stunting, dengan memanfaatkan potensi yang ada di masyarakat sekitar,” kata Huda Abdu Aziz, Koordinator Desa KKN Kolaboratif Desa Sucopangepok.
Sosialisasi dan pengenalan penting karena keterbatasan pengetahuan masyarakat terhadap nilai gizi pada daun kelor. “Padahal selama ini daun kelor dikenal sebagai tanaman yang ampuh dalam mengatasi stunting pada bayi. Bahan yang sangat murah dan mudah,” kata Huda. [wir]






