Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 15 orang dari enam negara muslim bakal belajar menekan angka stunting di Surabaya. Mereka akan mengunjungi sejumlah tempat seperti sekolah dan rumah sakit Islam, pondok pesantren, hingga KUA.
Dipilihnya Surabaya ini karena Pemerintah Kota (Pemkot) dinilai memiliki capaian penurunan stunting sangat tinggi di tingkat nasional. Terlebih, Indonesia juga menjadi rujukan negara Islam kawasan Asia Selatan atas keberhasilannya menurunkan angka stunting.
“Di negara-negara tersebut masih menjadi perdebatan antar ulama sehingga program KB masih belum berjalan dengan baik,” kata Deputi Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN, Prof Rizal Damanik, ditulis Selasa (25/7/2023).
Sementara UNFPA Representative for IndonesiaDr Anjali Sen, menyebut jika Indonesia dipilih bukan tanpa sebab. Sebagai negara muslim terbesar, Indonesia berhasil dengan program KB, pencegahan pernikahan anak, dan penurunan stuntingnya.
“Indonesia menjadi rujukan dan prestasi Indonesia memang sangat bagus. Itulah yang menjadi landasan mengapa Indonesia menjadi tempat untuk belajar,” jelas Anjali.
BACA JUGA:
Ini Titah Khofifah Soal Stunting di Hadapan Ribuan Muslimat NU
Menurutnya, pernikahan anak menjadi isu penting. Angka pernikahan anak di negara Islam bagian Selatan masih tinggi. Sedangkan, jika pernikahan anak terjadi, dampaknya akan sangat kompleks, tidak hanya mempengaruhi IPM yang rendah, tapi juga berpotensi lahirnya generasi stunting.
“Jika anak menikah, mereka pasti akan putus sekolah, alat reproduksi yang belum matang dan harus hamil maka sangat berpotensi melahirkan generasi stunting. Padahal saat ini, dunia tengah berlomba-lomba untuk menurunkan angka stunting. Maka penurunan angka stunting bila dilakukan bila pernikahan anak bisa dicegah,” bebernya.
Di kesempatan sama, Kadinkes Jatim Dr Erwin Astha Triyono mencatat bahwa berdasarkan data BPS Jatim, proyeksi jumlah penduduk tahun 2022 sebanyak 41.149.974 jiwa. Sementara laju pertumbuhan penduduk periode 2010-2020 sebesar 0,79 persen per tahun, dan berdasarkan SDKI 2017, TFR Jatim sebesar 2,1.
BACA JUGA:
Tim FK dan FKG UHT Surabaya Berikan Edukasi Pencegahan Stunting pada Anak
Sedangkan IPM di Jatim pada 2020 terus mengalami kemajuan. Pada tahun 2019 IPM Jatim mencapai 71,50, tahun 2020 mencapai 71,71, dan selanjutnya pada 2021 mencapai 72,14. “Penyebab stunting itu ada tiga yaitu pola asuh, akses masyarakat untuk memperoleh nutrisi dan penyakit atau infeksi,” ungkap Erwin.
Pola asuh maksudnya, karena kedua orang tua sibuk bekerja, sehingga anak dititipkan ke kakek atau orang lain. Sedangkan akses masyarakat untuk memperoleh nutrisi sangat tergantung kemampuan ekonomi keluarga. “Faktor infeksi dan penyakit bisa berasal dari proses kehamilan atau pola hidup sehat atau lingkungan dimana masyarakat tinggal,” terang Erwin.
Sedangkan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jatim Maria Ernawati menyebut jika peran remaja lewat giat dan gerak remaja Generasi Berencana (GenRe) menjadi strategi efektif dalam memberikan edukasi kesehatan reproduksi, pendewasaan usia perkawinan, dan perencanaan berkeluarga. [ipl/beq]






