Jember (beritajatim.com) – Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember, Jawa Timur, resmi menyatakan 2.098 hektare tanaman tembakau di Kecamatan Tempurejo, Ambulu, dan Wuluhan rusak karena banjir dua pekan lalu.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika sebenarnya sudah mengingatkan bahwa cuaca ekstrem terjadi pada 7 – 13 Juli 2023. “Ternyata betul, pada 7, 8, 9 Juli. hujan di Jember, khususnya daerah selatan, tidak berhenti dengan volume cukup tinggi,” kata Kepala Dinas TPHP Imam Sudarmadji, ditulis Senin (24/7/2023).
Dinas TPHP sudah menginventarisasi kerusakan tembakau dan komoditas pertanian lainnya. “Saya bersama petani turun langsung ke lapangan. Memang hujan yang cukup deras mengakibatkan saluran drainase tak bisa membuang airnya,” kata Imam.
Namun kendati sempat rugi katena banjir, petani ternyata tidak kapok. “Ini karena tembakau memang menjanjikan. Jadi kalau kemarin terendam dan dipanen padaa usia 20-50 hari, yang sudah berusia 50 hari dipetik di awal untuk meminimalisasi kerugian,” kata Imam.
Dinas TPHP berupaya agar perbankan bisa memberikan kelonggaran pembayaran utang oleh petani. “Karena ini termasuk force majeur. jadi kami harapkan pembayaran bisa ditunda. Kami tidak tinggal diam. Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi,” kata Imam.
Imam juga sudah berkomunikasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember untuk memastikan kejadian tersebut masuk dalam kategori bencana. “Karena kalau bencana berdampak pada manusia, (pemberian bantuan) bisa cepat. Tapi ini di bidang pertanian. Ini yang masih kami diskusikan apakah masuk dalam darurat bencana atau tidak,” katanya.
Imam berharap jika kejadian di tiga kecamatan tersebut bisa dimasukkan dalam kategori darurat bencana, ada langkah cepat yang bisa diambil. “Mungkin kita bisa menggunakan dana tak terduga atau yang lain. Kami sudah sampaikan langkah-langkah kami ke Pemprov Jatim. Harapannya ada yang bisa diberikan oleh pemerintah pusat dan pemprov ke petani,” katanya.
Imam bisa memahami kegelisahan petani. “Dua tahun ini harga tembakau sangat bagus dan menjanjikan. Petani berlomba-lomba menanam tembakau. Harga kusiran bawah bisa Rp 10 rubu per kilogram,” katanya.
Pada 2021, luasan lahan tembakau sekitar 3.400 hektare, dan pada 2022 naik menjadi 4 ribu hektare. “Tahun 2023 ini bisa naik menjadi 6 – 8 ribu hektare untuk jenis tembakau voor oogst kasturi dan rajang, serta na-oogst,” kata Imam.
Tembakau na-oogst yang menjadi bahan baku ceruru terbanyak di enam kecamatan, antara lain Ambulu, Wuluhan, Tempurejo, Balung, Jenggawah, Ajung. Voor-oogst kasturi dan rajang lebih banyak dibudidayakan di kawasan Jember utara dam timur.
Sebelum terjadinya insiden banjir ini, Imam sebenarnya khawatir terjadi produksi tembakau berlebihan karena banyaknya petani yang menanam. “Kami untuk meningkatkan kualitas, sudah mengadakan sekolah lapang tembakau bekerja sama dengan mitra. Dan ini sudah berjalan setiap tahun, mulai dari pembibitan, pengolahan. sampai pasca panen. Kami lakukan untuk memperbaiki kualitas tembakau,” kata Imam.
Imam berharap petani mau mengadopsi teknologi. “Jangan sampai tembakau, khususnya tembakau cerutu, banyak memiliki kadar unsur kimia. Petani yang bermitra (dengan perusahaan) bisa kami jaga. Tapi petani yang tidak bermitra semakin banyak, karena selama tiga tahun ini tanaman tembakau menjanjikan,” katanya. [wir]






