Jember (beritajatim.com) – Setelah pandemi Covid-19 berakhir, bisnis ekspor tembakau cerutu na-oogst di Kabupaten Jember, Jawa Timur, semakin moncer. Ada peningkatan jumlah ekspor ke sejumlah negara, dan tak hanya terpusat di Eropa.
Setelah pandemi berakhir, Agusta Jaka Purwana, pengusaha tembakau cerutu Tarutama Nusantara (TTN), mengatakan, tak ada kendala signifikan. “Tembakau cerutu masih punya prospek. Para karyawan yang libur pada saat pandemi sudah mulai masuk. Perdagangan di pelabuhan sudah lama normal,” katanya, Jumat (7/7/2023).
Permintaan dari luar negeri masih stabil. “Ada penambahan ekspor, ke Australia, Republik Dominika, Korea Selatan, Libanon, Prancis, Laos,Vietnam, dan Rusia. Peningkatannya 20-25 persen,” kata Agusta Jaka.
Menurut Agusta, calon pembeli dari luar negeri sudah mulai berdatangan pada Mei sampai Agustus untuk melihat proses budidaya tanaman tembakau na-oogst. “Namun tergantung karakter tamu perusahaan (eksportir) masing-masing,” katanya.
Pembeli tembakau TTN berasal dari Belanda, Belgia, Jerman. “Mereka melihat proses tanaman, bahkan khusus untuk perusahaan kami sendiri, mereka datang setelah tanaman agak tinggi. Jadi ketika masa tanam, mereka tidak datang, tapi pas tanaman sudah agak tinggi pada September,” kata Agusta.
Calon pembeli tembakau yang dibudidayakan TTN biasanya akan datang lagi pada November sampai Maret tahun berikutnya. “Saat itu adalah musim inspeksi penjualan tembakau,” kata Agusta.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Jember 2021-2026 memang menempatkan tembakau sebagai satu keunggulan di antara keunggulan daerah lainnya. RPJMD mencatat pada 2020, ada beberapa jenis tembakau yang dibudidayakan di Jember.
Produktivitas tembakau na-oogst yang merupakan bahan dasar cerutu pada 2020 mencapai 1.640 kuintal. Ada 12 kecamatan sentra, yakni Kecamatan Wuluhan; Kecamatan Balung; Kecamatan Ambulu; Kecamatan Panti; Kecamatan Tempurejo; Kecamatan Jenggawah; Kecamatan Rambipuji; Kecamatan Puger; Kecamatan Patrang; Kecamatan Sumbersari; Kecamatan Ajung; dan Kecamatan Mumbulsari.
Sementara itu produktivitas tembakau kasturi di Jember adalah 1.530 kuintal. Ada 23 kecamatan yang menjadi sentra budidaya yakni Kecamatan Kalisat; Kecamatan Pakusari; Kecamatan Sukowono; Kecamatan Sumbersari; Kecamatan Wuluhan; Kecamatan Arjasa; Kecamatan Ledokombo; Kecamatan Sumberjambe; Kecamatan Tanggul; Kecamatan Puger; Kecamatan Jelbuk; Kecamatan Rambipuji; Kecamatan Jenggawah; Kecamatan Balung; Kecamatan Ambulu; Kecamatan Mumbulsari; Kecamatan Silo; Kecamatan Tempurejo; Kecamatan Mayang; Kecamatan Patrang; Kecamatan Sukorambi; Kecamatan Kaliwates; dan Kecamatan Ajung.
Produktivitas tembakau rajang pada 2020 adalah 980 kuintal dengan sembilan kecamatan menjadi sentra, yakni Kecamatan Arjasa; Kecamatan Jelbuk; Kecamatan Tempurejo; Kecamatan Rambipuji; Kecamatan Panti; Kecamatan Sukorambi; Kecamatan Mumbulsari Kecamatan Puger; dan Kecamatan Sukowono.
Sentra tembakau white burley meliputi lima kecamatan, yakni Kecamatan Wuluhan; Kecamatan Puger; Kecamatan Balung; Kecamatan Jenggawah; dan Kecamatan Mumbulsari. Namun RPJMD mencatat pada 2019 dan 2020 tidak ada panen jenis tembakau ini. [wir]






