Banyuwangi (beritajatim.com) – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak hadir langsung dalam kegiatan Suran Agung Tapel Adaman Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (Pamu) di Desa Temuguruh, Banyuwangi. Acara sebagian dari Nguri – Nguri Budoyo ini jadi salah satu unsur penting di dalam membangun Jawa Timur yang multi dimensi dan multi kultur.
“Nguri Nguri Budoyo atau melestarikan nilai luhur serta kearifan lokal ini menjadi penting di dalam membangun Jawa Timur khususnya mewujudkan Nawa Bhakti Satya,” ungkap Wagub Emil Dalam keterangan tertukis yg diterina beritajatim.com Minggu (23/9/2023).
Menurutnya, Nguri-Nguri Budoyo ini selaras dengan Nawa Bhakti Satya yang tercermin saat ini. Di mana semua keberhasilan, capaian banyak disinergikan oleh semua pihak salah satunya Pamu yang ada di Banyuwangi.
Salah satu bhakti pada Nawa Bhakti Satya yaitu Jatim Harmoni. Di dalamnya terdapat harmoni sosial dan alam dengan melestarikan kebudayaan dan lingkungan hidup. “Nguri Nguri Budoyo ini salah satu cara untuk menjaga Jatim tetap Harmoni melalui pelestarian budaya budaya yang ada,” katanya.
Wagub Emil menyebut, acara Suran Agung Tapel Adaman merupakan salah satu tradisi budaya yang kaya akan nilai-nilai luhur. Termasuk menjujung kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. “Di era digital dan modern seperti saat ini, menjaga dan melestarikan budaya serta tradisi merupakan, tanggung jawab bersama,” ungkapnya.
Lebih dari itu, kata Emil, setiap individu harus memahami warisan budaya ini tidak hanya menjadi jembatan pengetahuan dan identitas. Namun juga sebagai pondasi bagi pembangunan yang berkelanjutan dan harmonis di masa depan.
“Sebagai masyarakat yang majemuk, kita juga harus terus memperkuat harmoni dan toleransi antarumat beragama dan budaya. Menghormati perbedaan adalah salah satu kunci keberhasilan dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadilan,” urainya.
Sementara itu, Purwo Ayu Mardi Utomo (Pamu) berdiri sejak lama yakni sekitar tahun 1912. Pendirinya adalah Raden Mas Djoyo Poernomo.
Berdirinya Pamu ini sejatinya adalah wadah gemblengan spiritual yang berbasis jiwa kebangsaan. Tujuan lain yang mendasarinya adalah sebagai penyamaran saat perjuangan di masa penjajahan Belanda.
Hal ini menjadi penting, pasalnya saat itu Purwo Ayu Mardi Utomo dapat diakui penjajah karena berbasis spiritual. Hingga kini, Pamu semaki berkembang dan mengklaim memiliki 200 ribu orang. Mereka berkumpul saat satu momen yakni di Bulan Suro atau awal 1 Muharram. (rin/kun)
BACA JUGA:






