Malang (beritajatim.com) – Selama masa pandemi Covid-19 hingga saat ini, banyak pebisnis baru bermunculan. Mereka melakukan inovasi untuk menggebrak pasar. Seperti yang dilakukan oleh Mohamad Ariq Surya Nugraha, ia mendirikan brand bernama Woreking.
“Ide bisnis ini sebenarnya sejak tahun 2020. Tapi, karena ada kesibukan, baru teralisasi di akhir 2021 dan berjalan sampai saat ini,” ujar pria berusia 27 tahun ini.
Pria asal Banten ini menjelaskan, ide tersebut bermula karena dirinya yang bekerja sebagai copywriter. “Awalnya suka nulis, terus dibuat design untuk campaign. Suka aja gitu nulis tagline terus divisualkan, jadi lebih bermakna,” kata dia.
Kemudian, dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, ia lebih suka menggunakan kaos. “Kalau kerja di startup itu kan enak pakai kaos. Tapi, kaosnya cuman itu-itu aja. Kalau nggak kaos seragam, kaos acara, kan bosan juga,” kata dia.
Sampai pada akhirnya, Ariq pernah melihat seorang bos yang mengadakan sharing session. Saat itu, sang pemimpin tersebut menunjukkan sebuah kaos yang bertulisakan ‘Dare to Dream Big,’ “Itu kaos custom yang sengaja dia buat untuk memberi semangat karyawannya. Dari situ, akhirnya terpikir untuk membuat kaya gitu (kaos custom),” tutur Ariq.
Dari situlah, Ariq mulai menggali idenya. Ia ingin membuat kaos yang bisa mencerminkan sebuab pekerjaan atau passion yang memiliki makna positif.
“Jadi, ketika membaca (tulisan pada kaos), orang kerja jadi lebih semangat atau terinspirasi. Bisa relate gitu,” ujar dia.

Pelan tapi pasti, usaha yang menyasar pegawai startup tersebut mulai berkembang. “Saat ini, pemasaran kami lakukan melalui marketplace dan media sosial. Kebanyakan, pemesannya, selain dari Malang, juga dari Jakarta dan Banten,” imbuh dia. Ada beberapa tipe design yang tersedia. Yakni, stay motivate, work joke dan job desk.
“Biasanya, yang paling banyak dipesan adalah stay motivate dan job desk. Seperti tulisan jangan lupa kontrol s dan sedang berkarya,” kata Ariq.
Baca Juga: Smartfren Resmikan Desa Digital di Kediri
Sementara itu, pria kelahiran 1995 ini menambahkan, harga kaos dibanderol mulai Rp 80 ribu sampai Rp 90 ribu per piece.
“Selama satu bulan, bisa laku 20 sampai 30 kaos,” lanjut dia. Dion berharap, usahanya tersebut bisa terus berkembang. “Harapannya, bisa ekspansi ke luar Malang, bahkan luar negeri,” kata dia.
Salah satu caranya, yakni dengan memanfaatkan media digital untuk memperluas jangkauan pasar.
“Misalnya, meningkatkan performa iklan meta dan aktivasi tiktok affiliate,” kata dia.
Termasuk, Ariq dan timnya juga menjadi anggota komunitas startup di Ngalup Collaborative Network (Ngalup.co).
“Ikut community ngalup harapannya bisa belajar bagaimana strategi terbaik dalam membangun sebuah usaha rintisan. Kemudian, bisa dikenalkan dengan stakeholder dalam ngalup community. mulai dari sesama pengusaha atau lebih luar biasa jika dapat difasilitasi untuk bertemu dengan calon investor. Sekaligus, bisa cari partner kolaborasi lewat ngalup community,” pungkas dia. (ted)
====================
Konten Kolaborasi beritajatim.com dengan Ngalup Collaborative Network
Ngalup Coworking Space yang saat ini bertransformasi menjadi Ngalup Collaborative Network, adalah wadah bagi para talent, stakeholders, dan berbagai lini bisnis untuk kolaborasi dan berjejaring. Kami menyadari kebutuhan akan perubahan dan tantangan zaman yang semakin berkembang, menjadikan Ngalup tidak hanya sebagai tempat melainkan fasilitator.






