Beberapa hari sebelum pertandingan kandang perdana Liga 1 2023-24 di Gelora Bung Tomo, manajemen Persebaya Surabaya tidak dicemaskan oleh Barito Putra. Manajer Persebaya Yahya Alkatiri lebih terheran-heran dengan betapa sepinya penjualan tiket.
Berbeda dengan 38 ribu lembar tiket pertandingan anniversary melawan Persija Jakarta yang terjual habis dalam waktu lima menit, tiket pertandingan melawan Barito hanya terjual 25 persen hingga Sabtu (8/7/2023) siang. Resmi tercatat pertandingan ini disaksikan 12.182 orang penonton.
“Kalau penyebabnya saya bingung. Kemarin posisi kami masih positif, tapi ini animo penonton turun. Ini saya juga enggak tahu, apakah big match saja atau gimana saya enggak tahu,” kata Yahya, sebagaimana dilansir Tribunnews.
Sebenarnya sepinya penonton pertandingan Persebaya di laga perdana bukan pertama kali terjadi. Pertandingan perdana Liga 1 musim 2019 melawan Kalteng Putra, Selasa (21/5/2019), hanya dihadiri 10.247 orang penonton. Skor akhirnya pun 1-1.
Jumlah penonton pertandingan perdana Liga 1 musim 2022-23 melawan Persita Tangerang justru lebih parah. Hanya 4.500 tiket terjual dari kapasitas 46.806 kursi setelah direnovasi.
Ada banyak dugaan soal sepinya penonton ini. Pertama, mahalnya harga tiket. Panitia pelaksana membanderol tiket kelas ekonomi dengan harga Rp 100 ribu dan VIP Rp 250 ribu. Namun dalam dua kali pertandingan pramusim di Gelora Bung Tomo melawan Bali United dan Persija, harga tiket tidak menghalangi penonton untuk membelinya. Bahkan tiket dengan harga dua tiga kali lipat harga normal di calo pun laris manis. Dengan kata lain, harga tiket bukan faktor sepinya penonton.
Faktor sepinya penonton biasanya juga dikaitkan dengan jadwal pertandingan. Pertandingan yang digelar pada hari kerja dan jam terlalu malam ini yang dijadikan alasan panitia untuk menjelaskan lengangnya Gelora Bung Tomo saat pertandingan perdana melawan Persita. Pertandingan itu digelar pada Senin malam, 1 Agustus 2022.
“’Ini main hari kerja, malam hari juga. Pasti penonton pertimbangannya banyak. Besok (hari ini) harus kerja, jadi memilih tidak ke stadion,’” kata Sekretaris Persebaya Rah Surahman, sebagaimana dilansir Jawapos.com, Selasa (2/8/2022).
Namun, pertandngan melawan Barito Putra hari ini digelar pada akhir pekan dan sore hari. Jadwal bukan problem.
Faktor ketiga yang mungkin menyebabkan Gelora Bung Tomo sepi pengunjung adalah tim lawan. Barito Putra bukan lawan klasik Persebaya. Tidak ada rekor persaingan ketat antara Persebaya dengan klub asal Banjarmasin itu. Namun rekor buruknya Persebaya melawan Barito Putra seharusnya sudah cukup untuk menarik minat Bonek untuk hadir.
Lagipula, pertandingan perdana melawan Persik Kediri pada Liga 1 musim 2020, Gelora Bung Tomo dipadati 50 ribu penonton. Padahal secara tradisional, Persik bukan rival atau lawan klasik Persebaya. Pertandingan juga digelar pada Sabtu petang, 29 Februari 2020. Bonek seperti mengabaikan status historis Persik.
Faktor lain tentu saja ada dan sangat acak. Dua di antaranya adalah membengkaknya pengeluaran finansial untuk kebutuhan lain seperti biaya pendaftaran sekolah tahun ajaran baru, atau uang mereka sudah terkuras untuk dua pertandingan pramusim di Gelora Bung Tomo. Faktor lain yang memungkinkan adalah cuaca yang tak bersahabat. Hujan yang turun pada sore hari membuat orang enggan beranjak dari rumah, terutama saat akhir pekan.
Apapun faktor ketidakhadiran puluhan ribu Bonek di Gelora Bung Tomo, Persebaya tidak boleh menjadikannya alasan untuk bermain tak maksimal. Memang ada benarnya ‘football is nothing without fans‘. Bukan hanya karena soal kesemarakan pertandingan, pemasukan dari penjualan tiket pertandingan berguna untuk membiayai operasional klub.
Namun berapapun jumlah Bonek yang hadir, para pemain Persebaya harus tetap bermain pantang menyerah. Ini bagian dari tanggung jawab profesional dan penghormatan terhadap mereka yang sudah rela datang ke stadion dan mengeluarkan uang untuk membeli tiket…. dan lumpia.
Ada karakter penonton sepak bola di Indonesia yang bisa jadi pegangan: mereka mencintai kemenangan. Selama Persebaya bisa menghadirkan kemenangan demi kemenangan plus permainan yang enak disaksikan, Gelora Bung Tomo akan disesaki puluhan ribu penonton lagi.
Tiada loyalitas tanpa kemenangan. Percayalah. Hal ini bisa dilihat dari pertandingan Persebaya pada masa-masa sebelumnya. Saat performa Bajul Ijo jeblok, maka Gelora 10 Nopember yang berkapasitas hanya 25 ribu penonton pun tak akan disesaki orang. Orang ingin datang ke stadion untuk menghibur diri. Kemenangan adalah kanalisasi penghiburan itu.
Hasil akhir 1-1 antara Persebaya melawan Barito Putra, Sabtu (8/7/2023) sore, jelas tidak menghibur siapapun yang hadir di Gelora Bung Tomo. Tertinggal lebih dulu oleh gol yang dicetak Murilo Mendes pada menit 28, Persebaya membalas melalui kaki Bruno Moreira pada menit 44. Dua-duanya pemain Brasil. Gol mereka sama-sama berkelas.
Bagi Bonek dan Persebaya, ini bukan hasil yang adil. Terutama, karena Thoriq Alkatiri, wasit kaliber FIFA, membiarkan pelanggaran terhadap Song Uiyoung oleh Bagas Kaffa di kotak penalti. Pelanggaran itu sangat jelas terlihat di televisi, dan Alkatiri tidak berkonsultasi dengan hakim garis jika memang tidak melihatnya. Sementara saat Muhammad Iqbal terjatuh dalam kotak penalti Barito, dengan penuh keyakinan Alkatiri mencabut kartu kuning dari sakunya. Iqbal dianggap hendak mengelabuinya.
Presiden Persebaya Azrul Ananda langsung menghubungi Ketua Umum PSSI Erick Thohir untuk mengevaluasi kimerja wasit. “Saat PSSI dan Liga sedang semangat berbenah, jangan sampai terjadi hal-hal yang mengganggu di awal musim. Mumpung baru dua pekan,” katanya.
Azrul melihat kecurigaan dan kekecewaan akan terus muncul terhadap wasit jika sistem Video Assistant Referee tidak segera diberlakukan. “Ini bukan untuk Persebaya. Ini demi kebaikan liga kita. Semangat PSSI-nya sudah luar biasa. Jangan sampai riak-riak di awal musim nanti malah menganggu semuanya. Bukan hanya klub-klub, tapi juga suporter,” katanya.
Tentu saja tindak lanjut PSSI yang adil dan tegas akan menjawab semua spekulasi yang mempertanyakan Thoriq Alkatiri. Dengan demikian, biarlah tinggal waktu yang menjawab pertanyaan Yahya Alkatiri tentang animo Bonek untuk datang ke stadion pada pekan-pekan berikutnya. [wir]






