Magetan (beritajatim.com) – Kondisi Embung Tamanarum Desa Tamanarum Kecamatan Parang Kabupaten Magetan nyaris kering kerontang. Volume air tinggal sekitar 10.000 liter saja. Pendangkalan membuat embung tersebut jadi mudah kering meski baru 2 bulan tak turun hujan.
Imbasnya, petani yang menggarap lahan di bawahnya beralih pakai sumur pompa dalam milik warga. Biaya untuk air saja sudah mencapai Rp2,3 juta sekali tanam jagung. Biaya diperkirakan makin membengkak jika menanam kacang atau bahkan padi.
Ndoso, salah seorang petani yang menggarap lahan di bawah Embung Tamanarum bercerita, dia memilih untuk membeli air sumur pompa dalam. Lantaran, selama dua tahun ini air embung mudah mengering. Sehingga, saat musim kemarau tiba, dirinya tak bisa mendapatkan air meski sudah menanam palawija.
“Ya airnya harus beli, kira-kira sekali tanam jagung itu Rp2,3 jutaan. Kalau menanam kacang biaya air bisa makin bertambah. Kalau embung ini, dulu pas belum ada pendangkalan, sampai musim kemarau kami masih bisa kebagian air. Tapi sejak 2 tahun terakhir, gak dikeruk, jadi mudah kering,” kata Ndoso.
Hal serupa juga dialami oleh Hendro, petani desa setempat. Dia memilih menanami sawahnya dengan jagung dengan harapan bisa memakai air embung. Namun, nyatanya dia harus membeli dari sumur P2AT.
BACA JUGA:
“Ya karena air embung ini udah gak bisa untuk mengairi ladang kami. Kalau musim hujan ya kami bisa tanam.padi, tapi kalau pas seperti ini ya gak bisa. Hujan sudah jarang. Embung makin mengering,” katanya.
Mereka mengharap, embung yang dibangun sejak 25 tahun yang lalu itu kembali dikeruk agar bisa menampung air maksimal saat musim hujan. Sehingga, saat kemarau, mereka bisa mendapatkan air untuk mengairi ladang. [fiq/but]






