Mojokerto (beritajatim.com) – Situs Siti Inggil yang terletak di Dusun Kedung Wulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto diyakini sebagai petilasan pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya. Tempat ini dipercayai dapat mengabulkan doa yang berkaitan dengan jabatan atau kedudukan sehingga banyak dikunjungi masyarakat.
Terutama saat jelang Pemilihan Umum (Pemilu) dan lainnya. Hal tersebut tak lepas dari keagungan Raden Wijaya yang berhasil menyatukan nusantara. Raden Wijaya merupakan pendiri dari kerajaan Majapahit sekaligus raja pertama Majapahit yang memerintah pada tahun 1293-1309, bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardana.
Sebagai salah satu raja berpengaruh dan memiliki sejarah yang panjang, tak heran jika Situs Siti Inggil yang diyakini sebagaiakan Raden Wijaya hingga kini masih banyak didatangi para peziarah. Bahkan kabarnya, banyak pejabat dan Presiden Republik Indonesia datang untuk melakukan napak tilas dan bermeditasi di tempat ini.
Situs Siti Inggil banyak dikunjungi peziarah khususnya pada malam Jumat Legi dan pada bulan Suro. Juru Kunci Situs Siti Inggil, Rifa’i enggan memberikan keterangan terkait dengan kedatangan sejumlah pejabat, tokoh maupun lainnya ke Situs Siti Inggil dengan maksud tertentu.
Sementara itu, arkeolog di Museum dan Cagar Budaya, Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, Siti Inggil merupakan punden dari Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong dan disakralkan oleh masyarakat. Kemudian muncul tokoh yang kemudian mengadakan ritual di Situs Siti Inggil, getuk tular dari mulut ke mulut sehingga tercipta suatu kepercayaan.
Baca Juga:
Situs Siti Inggil Mojokerto Tempat Belajar Agama Buddha
“Menurut cerita masyarakat sendiri, sekitar sebelum tahun 1980-1990 an sehingga katanya banyak jenderal besar ke sana (Situs Siti Inggil, red). Cerita dari masyarakat, banyak tokoh besar kesana, entah benar atau tidak, kurang pasti juga,” ujarnya.
Banyaknya tokoh besar di Situs Siti Inggil dimulai dari sejak kepemimpinan Soeharto. Menurut kepercayaan bagi sebagian masyarakat, lanjut Wicak, jika ingin menduduki jabatan maka harus ke Situs Siti Inggil untuk menggelar ritual. Penamaan Siti Inggil oleh masyarakat, Siti Inggil adalah Kraton Majapahit.
“Sehingga masyarakat percaya Raden Wijaya ada di Situs Siti Inggil, perlu dilakukan kaji ulang terkait adanya makam Raden Wijaya di Situs Siti Inggil karena banyaknya penambahan dan menjadi punden desa. Siti Inggil muncul sebagai bagian punden desa bukan dari sisi arkelogis jadi dipisahkan,” ujarnya.
Namuk sisi arkelogis, Siti Inggil merupakan bagian dari kompleks pembelajaran Budha pada masa Kerajaan Majapahit sehingga daerah itu disebut sebagai Lemah Tulis. Dalam Kidung Wargasari menceritakan perjalanan Wargasari dari Lebak Jabung di Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto menuju Majapahit melewati Situs Kumitir dan ke Lemah Tulis.
Baca Juga:
Situs Siti Inggil Mojokerto Petilasan Raden Wijaya Pendiri Majapahit
“Selain disebut dalam naskah Negara Kertagama, Lemah Tulis juga disebut dalam Prasasti Gemekan dan Kidung Wargasari kuat Lemah Tulis ada di Bejijong. Ke Siti Inggil untuk mengabulkan hajat dengan melakukan ritual di makam Raden Wijaya, sebagai raja pertama Majapahit yang itu merupakan makamnya, itu harus diluruskan,” urainya.
Namun jika, tegas Wicak, ke Situs Siti Inggil untuk mencari berkah ke Pendeta Mpu Barada sebagai area peribadatan agama Budha saat zaman Kerajaan Majapahit dimungkinkan. Karena hal tersebut juga naseha dari raja-raja Majapahit. Namun jika dianggap Situs Siti Inggil merupakan makam Raden Wijaya, hal tersebut perlu dikaji ulang.
“Tidak ada yang tahu (sejumlah Presiden RI ke Situs Siti Inggil), itu katanya, katanya. Tanpa bermaksud menghilangkan kesakralan dari punden Siti Inggil bagi masyarakat Kedungwulan, dari sisi kami (arkeolog) memang daerah Kedungwulan sebagai tempat pembelajaran agama Budha” tegasnya. [tin/beq]






