Mojokerto (beritajatim.com) – Situs Siti Inggil terletak di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Situs ini dipercaya sebagai petilasan pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya yang bergelar Maharaja Kertarajasa Jayawardahana. Berkat nilai sejarahnya yang tinggi, Siti Inggil banyak dikunjungi masyarakat maupun tokoh besar.
Siti Inggil dipercaya merupakan sebuah petilasan Raden Wijaya yang menjadi cikal bakal lahirnya Majapahit di tahun 1293 Saka atau sekitar 1500 Masehi. Situs Siti Inggil berupa pondasi struktur bata kuno yang memiliki luas sekitar 15×15 meter persegi.
Ada tangga di sisi selatan dan timur yang menjadi akses masuk ke bangunan utama di atas struktur tersebut. Di dalam Siti Inggil terdapat lima makam dan di batu nisan tertulis nama-nama. Yakni makam Raden Wijaya, Garwo Padmi Ghayatri, Garwo Selir Dhoro Pethak, Garwo Selir Dhoro Jinggo, serta Abdi Kinarsih Kaki Regel.
Makam ini bukanlah tempat jenazah Raden Wijaya, melainkan hanya sebagian abu dari jenazahnya. Sehingga masyarakat menyebutnya sebagai Petilasan Raden Wijaya. Di luar kompleks Situs Siti Inggil terdapat Sanggar Pamujan dan dua makam yang bertuliskan Sapu Jagad dan Sapu Angin yang merupakan pengawal dari Raden Wijaya.
Kemudian makam Mbah Kasan, salah satu dari sekian banyak guru spiritual Presiden Soeharto. Selain itu, terdapat sumur tua dan lumpang kesucian yang hingga saat ini masih digunakan. Terdapat pohon kesambi raksasa yang menjadi payung hidup bagi bangunan utama Siti Inggil. Keberadaan pohon itu membuat Situs Siti Inggil adem.
Arkeolog di Museum dan Cagar Budaya Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, struktur bata kuno yang ditemukan di Situs Siti Inggil merupakan mandapa atau batur kaki dari sebuah bangunan. “Pada masa Majapahit biasanya bangunan seperti pendopo ada batur dari bata dan bagian atas kayu. Karena kayu merupakan bahan organik sehingga yang tersisa hanya batur kaki,” ungkapnya, Jumat (9/6/2023).
Situs Siti Inggil diduga bangunan dari sebuah kraton yakni berupa sebuah pendopo yang digunakan untuk menerima tamu. Wicak (panggilan akrab, red) menyebut, penamaan Siti Inggil oleh masyarakat sudah cukup lama. Masyarakat menganggap temuan struktur batu bata tersebut merupakan Siti Inggilnya Kraton Majapahit.
“Siti Inggilnya Kraton Majapahit sehingga kemudian dinamakan Siti Inggil. Dalam perkembangan kemudian dilakukan renovasi dan penambahan, seperti pada bagian atas termasuk dinding dan bangunan makam. Kemudian muncul makam Raden Wijaya, tapi saat ditemukan tidak ada makam di situ. Antara makam yang ada dengan batur, beda jaman,” katanya.
Penambahan struktur di Situs Siti Inggil mulai dikerjakan sekitar tahun 1980-an. Ada perubahan dari masyarakat, Situs Siti Inggil tidak masuk dalam penanganan Purbakala karena sudah berubah fungsi dari keaslian. Siti Inggil merupakan punden dari Dusun Kedungwulan dan disakralkan oleh masyarakat.
BACA JUGA:
Detik-detik Waisak 2567 BE di Maha Vihara Majapahit Mojokerto
“Dari sisi arkeologis, daerah Kedungwulan, Bejijong, ada Candi Brahu, Siti Inggil, Candi Gentong dan beberapa temuan struktur batu cukup padat. Pada waktu zaman Henri Maclaine Pont tahun 1924 sudah mendapatkan perhatian sendiri. Henri Maclaine Pont mencoba memetakan atau merekontruksi terhadap denah Kraton Majapahit,” jelasnya.
Salah satunya ekskavasi dilakukan di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong. Penamaan Siti Inggil oleh masyarakat. Siti Inggil dinilai bagian dari Kraton Majapahit sehingga masyarakat percaya Raden Wijaya ada di Situs Siti Inggil.
BACA JUGA:
Nama Desa Lampah Gresik Berawal dari Kisah Pasukan Majapahit
Menurutnya perlu dilakukan kaji ulang terkait adanya makam Raden Wijaya di Situs Siti Inggil. Alasannya karena banyaknya penambahan dan menjadi punden desa.
“Siti Inggil muncul sebagai bagian punden desa bukan dari sisi arkelogis jadi dipisahkan. Siti Inggil merupakan bagian kaki batur bangunan yang kemudian semacam pendopo. Namun jika dianggap Situs Siti Inggil merupakan makam Raden Wijaya, hal tersebut perlu dikaji ulang,” tegasnya. [tin/but]
![Situs Siti Inggil Mojokerto Petilasan Raden Wijaya Pendiri Majapahit Situs Siti Inggil di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. [Foto : Misti/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/06/IMG-20230609-WA0001_jZalJ2yz4a-1024x576.jpeg)






