Mojokerto (beritajatim.com) – Situs Siti Inggil di Dusun Kedung Wulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, ternyata merupakan tempat belajar agama Buddha di masa Kerajaan Majapahit. Ini membantah anggapan masyarakat yang selama ini meyakini Situs Siti Inggil adalah petilasan pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya.
Arkeolog di Museum dan Cagar Budaya Trowulan Mojokerto, Wicaksono Dwi Nugroho, mengungkapkan status ini telah diungkapkan oleh peneliti asing Henri Maclaine Pont. Dasarnya adalah sejumlah temuan arkeologis yang ditemukan di situs Siti Inggil.
“Dari sisi arkeologis, daerah Kedungwulan, Bejijong, ada Candi Brahu, Siti Inggil, Candi Gentong dan beberapa temuan struktur batu cukup padat, pada waktu jaman Henri Maclaine Pont tahun 1924 sudah mendapatkan perhatian sendiri oleh Henri Maclaine Pont,” ungkap Arkeolog di Museum dan Cagar Budaya, Wicaksono Dwi Nugroho, Jumat (9/6/2023).
Henri Maclaine Pont mencoba memetakan atau merekontruksi denah Keraton Majapahit. Salah satunya ekskavasi dilakukan di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong.
Dalam catatan Henri Maclaine Pont, jelas Wicak, situs di Kedungwulan disebut sebagai Lemah Tulis yakni nama daerah yang disebut dalam naskah Negarakertagama.
Baca Juga:
Situs Siti Inggil, Cikal Bakal Lahirnya Kerajaan Majapahit di Desa Bejijong Mojokerto
“Letak dari Lemah Tulis ada di Dusun Kedungwulang, Desa Bejijong. Ini menarik, karena Lemah Tulis dalam naskah Negarakertagama diceritakan sebagai lokasi tempat pembelajaran dan tempat pendeta agama Buddha. Nyambung dengan Candi Brahu, Gentong merupakan komplek lingkungan padepokan agama Buddha,” katanya.
Dalam naskah Negarakertagama disebut nama Mpu Barada sebagai pendeta Buddha yang tinggal di Lemah Tulis. Siti Inggil, lanjut Wicak, merupakan bagian kaki batur bangunan yang kemudian semacam pendopo.
“Saat zaman Kerajaan Majapahit ada pengelompokan area peribadatan. Muslim itu di Troloyo dan sekitarnya, Bejijong kompleks Budha dan Siti Inggil bagian dari itu kalau dari segi arkeolognya. Menariknya, jika Lemah Tulis di sana (Kedungwulan, red), maka patung Joko Dolog yang ada di Taman Apsari Surabaya ditemukan di Lemah Tulis yang merupakan perwujudan dari Kertanegara,” jelasnya.
Wicak menjelaskan, pada masa penjajahan patung Joko Dolog akan dibawa ke Belanda. Patung itu sempat dibawa ke Surabaya dan diletakan sementara di Taman Apsari. Saat tidak jadi dibawa ke Belanda, patung Joko Dolog tidak dikembalikan lantaran tidak ada yang tahu pasti posisi Lemah Tulis berada di mana.
“Ke mana? Ke Brahu, Siti Inggil kan letaknya pasti tidak tahu. Letak pasti di mana, kita ngomong area. Nama Lemah Tulis itu nama desa, nama Lemah Tulis juga bisa dibuktikan muncul dalam Prasati Gemekan (Situs Gemekan, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto). Disebutkan berada di sebalah barat Gemekan, berarti kalau ditarik bener ada di barat Gemekan,” tuturnya.
Baca Juga:
Situs Siti Inggil Mojokerto Petilasan Raden Wijaya Pendiri Majapahit
Pada zaman Kerajaan Majapahit, posisi desa dengan desa yang lain jaraknya berjauhan. Siti Inggil muncul sebagai bagian punden desa bukan dari sisi arkeologis.
Sementara dari sisi arkeologis, tegas Wicak, Siti Inggil merupakan bagian dari kompleks pembelajaran Buddha pada masa Kerajaan Majapahit sehingga daerah itu disebut sebagai Lemah Tulis.
“Siti Inggil bagian dari itu, mungkin semacam pendopo. Tanpa bermaksud menghilangkan kesakralan dari punden Siti Inggil bagi masyarakat Kedungwulan, dari sisi kami (arkeolog) memang daerah Kedungwulan sebagai tempat pembelajaran agama Budha. Dari masa Majapahit, Lemah Tulis banyak dikunjungi yang ingin mendalami agama Budha,” ujarnya.
Dasar tersebut yang digunakan pembangunan Maha Vihara Majapahit yang terletak di sisi selatan Situs Siti Inggil. Wicak menambahkan, dalam naskah Negarakertagama disebutkan abu Raden Wijaya diletakan di Candi Simping yang terletak di Dusun Krajan, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.
“Situs Siti Inggil diduga bangunan dari sebuah keraton yakni berupa sebuah pendopo yang digunakan untuk menerima tamu. Siti Inggil merupakan bagian kaki batur bangunan yang kemudian semacam pendopo. Namun jika dianggap Situs Siti Inggil merupakan makam Raden Wijaya, hal tersebut perlu dikaji ulang,” tegasnya. [tin/beq]






