Blitar (beritajatim.com) – Sebanyak 9 proyek jembatan-jalan di Kabupaten Blitar macet dan molor dari target yang telah ditentukan. Adapun rinciannya, proyek yang macet tersebut adalah 3 jembatan serta 6 pengerjaan jalan hotmix.
Dinas PUPR Kabupaten Blitar pun meminta rekanan untuk menyelesaikan proyeknya di tahun ini. Bukan hanya itu, pihak rekanan atau penggarap proyek juga dikenakan denda berjalan sebagai bentuk sanksi.
Pemerintah Kabupaten Blitar sendiri menargetkan 9 proyek yang macet tersebut dapat selesai pada pertengahan Januari.
“Ada beberapa proyek fisik tidak selesai di akhir tahun anggaran 2023,” terang Kabid Bina Marga DPUPR Kabupaten Blitar Hamdan Zulfikri Kurniawan, Kamis (4/1/2024).
Meski macet, menurut Hamdan, keterlambatan yang terjadi di 9 proyek tersebut tidak terlalu lama. Sehingga targetnya pada pertengahan Januari ini semua proyek bisa selesai.
“Proyek yang terlambat selesai di Kabupaten Blitar, diantaranya Jembatan Subali di Kecamatan Sutojayan, Jembatan Mlalo di Kecamatan Gandusari, Talud Tapakrejo di Kecamatan Kesamben, dan 6 pekerjaan jalan hotmix. Untuk jalan, saya lupa lokasinya,” ungkap Hamdan.
Dari beberapa proyek yang belum selesai, pengerjaan jembatan Subali di Desa Kedungbunder, Kecamatan Sutojayan tentu menjadi perhatian. Besarnya anggaran yang digelontorkan ke proyek jembatan tersebut menjadi alasannya.
Untuk diketahui nilai proyek jembatan Subali sendiri mencapai Rp10,5 miliar. Meski nilai proyeknya besar ternyata pengerjaan jembatan tersebut meleset dari target akhir 2023 lalu.
Kini perkembangan jembatan Subali masuk Januari ini menyentuh angka 94 persen. Padahal sesuai jadwal seharusnya proyek tersebut dapat selesai pada 27 Desember 2023.
Sebelumnya Dinas PUPR Kabupaten Blitar telah menjelaskan alasan keterlambatan Jembatan Subali adalah karena terkendala proses pengiriman material seperti rangka baja, pembebasan lahan di sekitar jembatan dan mundurnya pelaksanaan perubahan APBD 2023. Berimbas pencairan dana terlambat dan progres pengerjaan telat.
“Jembatan Mlalo, hampir selesai. Diperkirakan 5 Januari sudah selesai. Dimungkinkan, setelah itu sudah bisa dilalui masyarakat. Kalau jalan, beberapa yang berbahan hotmix mengalami keterlambatan karena banyak yang kami ditangani,” ungkapnya.
Untuk 6 titik jalan yang pengerjaanya mengalami keterlambatan ini, lokasinya tersebar di beberapa wilayah. Di antaranya di Kecamatan Selorejo, Nglegok, dan Udanawu, ujung timur hingga barat memang ada pembangunan proyek.
Itu karena terkendala alat yang bermasalah, sehingga mempengaruhi pengerjaan. Otomatis jadwal mundur sehari atau dua hari, sehingga pengerjaan untuk ruas lain belum tertangani.
Selain alat, cuaca hujan di beberapa tempat di Bumi Penataran sempat mempengaruhi progres proyek terlambat ini. Sehingga kontraktor tidak berani mengerjakan.
“Semua proyek ini bisa selesai secepatnya, dipastikan tidak sampai akhir Januari. Jembatan Subali, perkiraan estimasi dapat selesai 15 Januari,”
“Karena kalau hujan, rangka baja tidak bisa dilakukan dan harus berhenti pengerjaanya,” ungkapnya.
Pemkab Blitar tidak ingin rugi dengan keterlambatan ini, sehingga dilakukan opname proyek atau pengukuran progres. Maka dari itu, pemerintah hanya membayar sesuai progres berjalan.
Sisanya dibayar saat sudah selesai dan rekanan dikenakan sanksi berupa membayar denda sesuai keterlambatan waktu pengerjaan.
”Uang denda pengerjaan proyek ini akan dikembalikan ke negara,” pungkasnya [owi/beq]






