Jember (beritajatim.com) – Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menerjunkan 467 mahasiswa. Tujuannya untuk mengajar di 212 sekolah dasar yang tersebar di 39 kota dan kabupaten, serta 24 sekolah menengah pertama yang di 7 kabupaten dan kota.
Mereka akan mengajar pada 20 Februari hingga 19 Juni 2023 dengan didampingi 54 dosen pembimbing lapang (DPL). Tak hanya mengajar di Jember, mereka juga mengajar di Banyuwangi, Gresik, Jakarta Selatan hingga kabupaten Dharmasraya di Provinsi Sumatera Selatan maupun kota-kota lainnya.
“Program Kampus Mengajar yang merupakan bagian dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka bertujuan membekali mahasiswa dengan beragam keahlian dan keterampilan dengan menjadi mitra guru dan sekolah dalam pengembangan model pembelajaran,” kata Rektor Iwan Taruna, sebagaimana dilansir Humas Unej, Jumat (17/2/2023).
Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman berharga dalam program Kampus Mengajar. Misalnya belajar memimpin, bekerjasama dalam tim, dan menjalankan program tertentu. “Kalian tidak hanya berinteraksi dengan murid dan guru saja, namun dengan ornag tua siswa serta masyarakat sekitar sekolah,” kata Iwan.
Iwan mengingatkan agar para mahasiswa siap meninggalkan zona nyaman. Kondisi semua sekolah berbeda dengan kondisi di Jember. Sebagian besar sekolah tujuan terletak di pelosok yang minim fasilitas. “Namun justru tantangan ini harus dijawab dengan kreativitas dan solusi nyata berbasis ilmu pengetahuan yang sudah didapat di bangku kuliah,” katanya.
Penanggung jawab program Kampus Mengajar di Universitas Jember, Banun Kusumawardhani, menyebutkan tiga tugas utama mahasiswa. “Pertama, membantu pengembangan proses belajar mengajar. Kedua, mengenalkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran. Ketiga, turut membenahi administrasi sekolah,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”unej”]
Desta Rizky Amalia, mahasiswi Program Studi Pendidikan Geografi FKIP, menyatakan siap fisik dan mental untuk beradaptasi dalam kondisi apa pun. “Untungnya saya asli Jember jadi sedikit-sedikit bisalah memahami Bahasa Madura,” kata mahasiswi yang akan mengahar di SDN 2 Sucopangepok, Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember.
Kondisi desa itu jelas membuat Desta harus cepat beradaptasi. Dari observasi awal yang dilakukannya, rata-rata rumah di sekitar sekolah dimana mereka bertugas tidak memiliki kamar mandi. Selain itu sulit akses sinyal telepon dan internet minim. [wir/but]






