Surabaya (beritajatim.com) – Banyak pelari pemula mengira bahwa kunci untuk menjadi lebih cepat adalah memaksa tubuh berlari sekuat mungkin setiap sesi latihan.
Padahal, cara tersebut justru membuat tubuh lebih cepat lelah, memanjangkan waktu pemulihan, dan menghambat perkembangan performa.
Dalam dunia lari, ada satu prinsip penting yang sering diabaikan: lari pelan adalah fondasi daya tahan. Dengan ritme yang stabil dan intensitas rendah, tubuh beradaptasi lebih baik, jantung dan paru bekerja lebih efisien, serta risiko cedera berkurang.
Untuk memahami bagaimana membangun kebiasaan berlari yang benar, berikut beberapa kesalahan yang paling sering dilakukan pemula serta cara memperbaikinya.
1. Berlari Tanpa Pemanasan
Banyak orang menganggap pemanasan bukan bagian penting dari sesi lari. Padahal, langsung berlari tanpa persiapan bisa membuat tubuh “kaget”: otot terasa kaku, langkah tidak stabil, dan napas cepat tidak terkontrol.
Pemanasan ringan selama 5 menit, seperti jalan cepat, skipping, atau lari kecil, dapat meningkatkan suhu otot dan memperbaiki sirkulasi darah. Otot yang siap bekerja bukan hanya membuat lari lebih nyaman, tapi juga mengurangi risiko cedera sejak Kilometer pertama.
2. Terlalu Ngebut di Awal
Kesalahan klasik lainnya adalah memulai lari dengan kecepatan tinggi. Dorongan untuk terlihat kuat atau “langsung panas” justru membuat tubuh kehabisan energi lebih cepat. Bagi pemula—bahkan pelari berpengalaman—easy run pace adalah kunci. Cara mudah mengeceknya adalah talk test: jika masih bisa berbicara tanpa terengah-engah, berarti ritmenya tepat untuk membangun aerobik. Latihan ini penting karena daya tahan yang kuat akan membuatmu mampu berlari lebih jauh dan akhirnya lebih cepat.
3. Langkah Terlalu Panjang
Beberapa orang percaya bahwa memperpanjang langkah otomatis meningkatkan kecepatan. Faktanya, langkah yang terlalu panjang menyebabkan hentakan keras pada tumit dan membebani lutut serta betis. Teknik yang lebih aman dan efisien adalah mengambil langkah lebih pendek namun lebih cepat (cadence). Dengan langkah pendek, energi yang terbuang lebih sedikit, keseimbangan terjaga, dan tekanan pada sendi berkurang. Hasilnya: performa meningkat tanpa risiko cedera berlebih.
4. Mengabaikan Latihan Kaki
Latihan lari bukan hanya soal berlari. Otot kaki yang kuat adalah pondasi utama untuk stabilitas dan daya tahan. Tanpa kekuatan otot yang memadai, lutut serta pergelangan kaki lebih rentan mengalami nyeri atau cedera. Latihan seperti squat, lunges, calf raises, hingga leg press membantu memperkuat otot pendukung sendi. Setelah kekuatan kaki meningkat, beban lari akan terbagi lebih merata sehingga jarak dapat ditambah tanpa rasa sakit. (fyi/ted)






