Malang (beritajatim.com) – Aroma persaingan memperebutkan jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang kian terasa menyengat.
Meski proses Seleksi Terbuka (Selter) baru akan resmi dimulai dalam dua pekan mendatang, gelombang manuver politik dan pencitraan para calon sudah memanas bak bara dalam sekam.
Di balik senyum formal dan salam hormat antar kandidat, aroma “perang dingin” bahkan disebut-sebut sudah menjurus ke “perang gaib”.
Ahmad Kusairi, Koordinator Lembaga Pro Desa Malang, mengungkapkan, bahwa tensi kompetisi sudah terasa di lapangan. Bahkan, hasil polling yang beredar di berbagai kanal media sosial mulai dijadikan alat kampanye terselubung untuk menaikkan popularitas masing-masing kandidat.
“Sudah ramai polling-polling itu. Tapi lucunya, setiap polling hasilnya beda. Ini indikasi kalau ada semacam desain untuk pencitraan. Bisa jadi itu dipesan,” tegas Kusairi, Jumat (20/6/2025).
Dalam situasi seperti ini, sambung Kusairi, harapan terbesar tetap sama. Yakni seleksi Sekda harus bersih, transparan, dan berpihak pada kepentingan rakyat, bukan sekadar akomodasi politik atau pencitraan.
“Biarpun ada ‘perang gaib’ dan strategi saling adu pencitraan, pada akhirnya yang terbaiklah yang harus menang — bukan yang paling kencang suaranya,” ucap Kusairi.
Namun, di tengah hangatnya aroma persaingan, suasana berbeda justru tercipta dalam Sidang Pansus RPJMD Kabupaten Malang 2025–2030 yang digela Rabu (25/6/2025) di ruang Paripurna DPRD.
Wakil Ketua DPC PDIP sekaligus anggota DPRD Kabupaten Malang terpilih 2024-2029, yang memimpin sidang sekaligus menjabat Ketua Pansus, Abdul Qodir, justru membuat kejutan saat sesi pembukaan.
Begitu sidang dimulai, satu per satu calon potensial Sekda Kabupaten Malang, dipanggil secara khusus untuk duduk berdampingan di meja depan.
“Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya minta Pak Oong dan Pak Budiar duduk di depan. Kemudian Pak Avicenna dan Pak Nurcahyo juga ikut ke depan bersama Pak Made Arya,” ujar Abdul Qodir di hadapan sekitar 30 pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kabupaten Malang, Rabu (25/6/2025).
Setelah semuanya duduk berjejer, Abdul Qodir pun menjelaskan maksud dan tujuannya.
“Bapak dan Ibu sekalian, sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa nama-nama yang saya panggil ini sedang menghiasi pemberitaan media akhir-akhir ini sebagai calon kuat Sekda. Kami sengaja minta mereka duduk bersama dalam satu frame, agar publik tahu bahwa tidak ada rivalitas panas di antara mereka,” tegas Adeng, sapaan akrab Abdul Qodir yang juga menjabat Ketua Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Malang itu.
Tepuk tangan pun bergemuruh memenuhi ruangan. Suasana sidang yang semula formal berubah hangat. Adeng bahkan menyampaikan bahwa siapapun yang nantinya terpilih sebagai Sekda definitif, dialah yang akan menjadi “dirijen utama” dalam pelaksanaan RPJMD Kabupaten Malang 2025–2030.
Kehadiran para calon Sekda dalam satu meja menjadi momen simbolik yang menenangkan suasana. Namun publik tentu tetap mencermati dinamika di balik panggung.
“Ini bukan sekadar kompetisi jabatan. Ini soal arah kebijakan birokrasi lima tahun ke depan,” pungkas Adeng yang memecah ketegangan raut wajah tiga Calon Sekda Kabupaten Malang jadi tersenyum simpul. (yog/ted)






