Blitar (beritajatim.com) – Sebanyak 3 Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Blitar akan dilebur. Ketiga SD Negeri yang akan digabungkan tersebut adalah SD Negeri Pojok 3, Bangle 1 dan Satreyan 1.
Terkait hal itu Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Adi Andaka pun membeberkan alasan rencana penggabungan tersebut. Menurut Adi, adanya penggabungan SD Negeri ini membuat ketiga sekolah tersebut tak bisa melakukan penerimaan siswa didik baru.
“Jadi karena mau digabung itu ketiga SD tersebut tak bisa melakukan penerimaan siswa didik baru. Bukan karena ketiga SD itu tak dapat siswa kemudian digabungkan bukan begitu,” ucap Adi Andaka, Selasa (15/7/2028).
Menurut Adi, rencana penggabungan ini sudah direncanakan sejak setahun yang lalu. Sehingga pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2025 ini, ketiga sekolah tersebut tak bisa melakukan penerimaan siswa baru.
“Jadi bukan karena tidak ada siswa, bukan seperti itu terbalik itu,” tegasnya.
Menurut Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar ada beberapa faktor penyebab sekolah tidak dilirik oleh calon siswa baru. Salah satunya adalah banyaknya jumlah sekolah dasar dalam satu wilayah tersebut.
Persaingan yang semakin ketat ditambah jumlah calon siswa yang terbatas, tentu akan membuat salah satu sekolah akan kalah saing bahkan mati. Tentu kondisi ini perlu disikapi dengan cermat oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar.
“Semua bisa juga bisa masuk semua, kalau SMA lebih aman lagi karena jumlah siswanya lebih banyak ketimbang lembaganya kalau SMP ini kan merata, SD ini kita kan banyak yang dari MI dan lembaga-lembaga yayasan,” imbuhnya.
Jumlah lembaga pendidikan di Kabupaten Blitar sendiri memang cukup banyak. Data Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar total ada 606 lembaga pendidikan yang beroperasional di Bumi Penataran, baik itu swasta maupun negeri.
Secara keseluruhan pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini total calon siswa yang mendaftar di lembaga pendidikan Kabupaten Blitar mencapai 9.565 orang. Namun dari ribuan siswa tersebut masih ada 3 SD Negeri yang tidak mendapatkan siswa baru.
“Banyak faktor, kearifan lokal yang berpengaruh,” tegasnya. [owi/beq]






