Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas menyampaikan ada 3 pelajaran penting yang perlu dipahami oleh masyarakat terkait Hari Pahlawan.
“Terdapat pelajaran apa yang bisa dipetik dari peristiwa Hari Pahlawan? Tentu sangat banyak, tapi setidaknya ada tiga,” ujar Anwar yang dikutip dari laman Muhammadiyah, Jumat (11/11).
Pelajaran pertama, menurutnya adalah besarnya peran sentral dari para pemuka agama dalam memperkuat persatuan dan kesatuan di kalangan umat dan warga bangsa.
Pelajaran kedua, konsistensi dan determinasi dari para pemuka agama untuk mengerakkan umat dan warga bangsa dalam melawan penjajah dan membela kepentingan bangsa dan negara.
Pelajaran ketiga, para pemuka agama selalu menanamkan semangat persatuan dan kesatuan sehingga masyarakat Indonesia pada saat itu bisa mengatasi berbagai masalah yang mengancam eksistensi bangsa dan negara.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sejarah”]
“Untuk itu dari peringatan Hari Pahlawan ini kita berharap agar nilai-nilai yang terdapat di dalam peristiwa tersebut dapat kita ambil dan pergunakan dengan sebaik- baiknya bagi kemashlahatan dan kemajuan umat, bangsa dan negara kita kedepannya,” imbuh Anwar.
Dia pun mengungkapkan bahwa Hari Pahlawan merupakan momen untuk menjaga ingatan terhadap perjuangan anak bangsa. Terutama, untuk mereka-mereka yang biasa disebut dengan arek-arek suroboyo dalam melawan tentara sekutu dan mempertahankan Tanah Air.
“Kita melihat bagaimana heroiknya mereka sebelum dan pada 10 november 1945 tersebut di mana dengan teriakan Allahu Akbar yang telah menggumpal di dalam dada, mereka dengan senjata seadanya bergerak menyongsong musuh serta memporak-porandakannya,” papar Anwar.
Bahkan, pada peperangan itu para pejuang Indonesia juga berhasil membunuh pimpinan penjajah, yakni Brigadir Jenderal Mallaby. Momen bersejarah itu, kata Anwar, tidak boleh dilupakan.
“Oleh karena itu sebagai warga bangsa yang baik kita tidak boleh melupakan perisiwa bersejarah ini apalagi akibat dari peristiwa tersebut ribuan rakyat Surabaya menjadi korban yang sebagian besar adalah warga sipil dan puluhan ribu penduduk surabaya terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman,” pungkasnya. (nap)






