Surabaya (beritajatim.com) – Sekolah tak lagi sekadar ruang belajar. Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim) kini mengembangkan program School Food Care (SFC) yang menjadikan sekolah sebagai pusat produksi pangan. Sebanyak 29 SMA Negeri telah menjalankan program ini dengan memanfaatkan lahan kosong untuk pertanian, perkebunan, hingga budidaya ikan.
Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai menegaskan, SFC sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Ia menilai, pendidikan tak cukup hanya berbasis teori di ruang kelas, melainkan juga harus menyentuh praktik nyata yang memberi nilai tambah bagi siswa maupun masyarakat.
“Kalau lahannya luas tapi dibiarkan menganggur, itu sangat disayangkan. Dengan SFC, sekolah punya laboratorium alam. Hasil pertanian, perkebunan, atau ternak ikan bisa dibagikan ke guru dan murid untuk perbaikan gizi, atau dijual ke masyarakat sekitar,” ujar Aries saat meresmikan program SFC di SMAN 1 Dampit Malang, ditulis Selasa (26/8/2025).
Aries juga meminta kepala sekolah untuk mengoptimalkan kepemimpinan dalam mendorong produktivitas sekolah. Menurutnya, dengan leadership yang visioner, seluruh guru dan siswa bisa bergerak bersama membangun ekosistem sekolah yang lebih mandiri.
“Pendidikan di sekolah harus melampaui ruang kelas. Kita ingin murid punya semangat entrepreneur, dan sektor pertanian adalah salah satu ruang besar untuk itu,” tambahnya.
Program SFC tak hanya menanamkan keterampilan bercocok tanam, tetapi juga menumbuhkan nilai produktif, tanggung jawab, hingga jiwa wirausaha. Bagi siswa, kegiatan ini bisa menjadi bekal praktis selepas lulus, terutama bagi mereka yang tak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Ke depan, Dindik Jatim menargetkan program ini diperluas ke seluruh SMA Negeri di Jawa Timur. Dengan begitu, sekolah tak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, melainkan juga sebagai agen perubahan dalam ketahanan pangan nasional. [ipl/but]






