Malang (beritajatim.com) – Di tengah tumpukan barang-barang bekas yang mengelilingi rumahnya di Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Muhammad Riski (1,5) tampak berlarian ke sana kemari. Meski langkahnya masih tertatih, bocah kecil itu terlihat aktif dan ceria, sesekali terpaksa kembali merangkak untuk berpindah tempat.
Keceriaan Riski kontras dengan kondisi saudara kembarnya, Muhammad Ridho. Di usia yang sama, Ridho masih harus digendong oleh ibunya, Sulastri. Tubuhnya tampak lemah, napasnya terdengar mendekur, sesekali mengerang dan menangis. Di hidungnya terpasang selang kecil yang menjadi satu-satunya jalan masuk asupan nutrisi ke tubuhnya.
“Selang kecil ini berfungsi sebagai sarana untuk memasukkan susu, karena mulutnya tidak bisa dimasuki makanan dan minuman apapun,” ungkap Sulastri saat ditemui, Senin (9/2/2026).
Ridho didiagnosis mengidap perkaburan preperitoneal fat hemiabdomen kanan suspek ec peritonitis, meteorismus, serta dilatasi gaster, yang menyebabkan penumpukan udara di dalam usus, gangguan pernapasan, dan masalah pada jantung. Kondisi itu membuat Ridho harus mengonsumsi susu melalui selang yang dimasukkan lewat hidungnya.
Akibat kelainan tersebut, Ridho memerlukan pendampingan medis intensif dan kontrol rutin setiap bulan ke fasilitas kesehatan. Namun, keterbatasan ekonomi membuat perjuangan keluarga ini semakin berat.
Sulastri menuturkan, gejala kelainan sebenarnya sudah terlihat sejak Ridho dilahirkan pada 2024 lalu. Saat itu, Ridho sering mengalami sesak napas dan suara mendekur dari hidungnya. Namun, ia dan suaminya, Samsul, mengira kondisi tersebut wajar pada bayi yang baru lahir.
“Sampai pada usia tiga bulan, kami memeriksakan anak ini ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan, karena terus mendekur dan sesak nafas,” tegasnya.
Dari pemeriksaan itulah, keluarga ini mengetahui bahwa Ridho mengalami kelainan serius. Dokter kemudian memutuskan pemasangan selang melalui hidung sebagai sarana memasukkan susu, karena mulut Ridho tidak memungkinkan untuk menerima asupan makanan maupun minuman.
“Jadi susu saya masukkan melalui selang ini, menggunakan syringe,” ucap Sulastri.
Di tengah kondisi kesehatan anaknya, masalah ekonomi menjadi beban lain yang tak kalah berat. Sulastri dan Samsul bekerja sebagai pemulung dengan penghasilan yang tak menentu, bahkan kerap tidak mencapai Rp25 ribu per hari.
“Suami kadang punya kerja sampingan sebagai tukang pijat, dengan tarif seikhlasnya. Itupun tidak selalu ada setiap hari,” bebernya.
Kondisi semakin sulit ketika bantuan BPJS Kesehatan yang selama ini mereka andalkan mendadak tidak bisa digunakan.
“Untuk kontrol rutin ke rumah sakit, sebelumnya kami mendapat bantuan PPID BPJS Kesehatan. Hanya saja, sejak bulan lalu kami mendapat informasi BPJS kami sementara masih nonaktif. Belum tahu alasannya apa,” urainya.
Akibat BPJS yang nonaktif, jadwal kontrol Ridho yang seharusnya dilakukan pada Senin (9/2/2026) terpaksa dibatalkan hingga proses pengurusan BPJS selesai.
Meski demikian, Sulastri mengaku masih mendapat pendampingan dari tenaga kesehatan desa.
“Alhamdulillahnya, selama ini anak saya masih mendapat pendampingan medis dari Ponkesdes Jenggolo, yang kerap datang ke sini untuk memeriksa perkembangan anak saya,” katanya.
Selain itu, ia menyebut tidak ada bantuan rutin lain yang diterima dari pemerintah, termasuk dari pemerintah desa.
“Tidak ada bantuan lain. Hanya biasanya bantuan dari perorangan. Begitupun untuk bantuan makanan kadang saya dikasih oleh tetangga,” tuturnya.
Untuk menyiasati kebutuhan susu Ridho yang harganya mahal, Sulastri mengaku kerap mencampur adonan susu dengan bubur nasi agar bisa lebih hemat.
“Jadi untuk saat ini, yang penting kebutuhan untuk anak-anak saya cukup. Meskipun saya tidak makan, tidak apa-apa,” terangnya.
Muhammad Riski dan Muhammad Ridho merupakan anak pertama dan kedua dari pernikahan Sulastri dan Samsul. Dari pernikahan sebelumnya, Sulastri juga memiliki seorang anak laki-laki bernama Aditya Saiful Anam (16).
Remaja yang kini duduk di kelas X SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen itu menjadi satu-satunya harapan keluarga. Saiful memiliki catatan prestasi membanggakan di bidang karate sejak masih duduk di bangku SMP.
Beberapa prestasi yang pernah diraihnya antara lain juara 3 Kumite +50 kg Kadet Putra pada Open Tournament SMKNAGA Cup 1 tahun 2023, juara 3 Kumite +50 kg SMP Putra pada Kejuaraan Karate Terbuka Tingkat Nasional Brawijaya University Karate Championship 2023, serta juara 2 Kumite Perorangan -52 kg Kadet Putra pada Kejuaraan Jatim Open Piala Kemenpora RI tahun 2024.
“Alhamdulillah, anak saya yang pertama ini dulu sering juara. Tapi saat ini sudah tidak pernah ikut kompetisi, karena sering tidak punya uang untuk biaya registrasi, dengan kondisi adeknya yang juga seperti ini,” terang Sulastri.
Kini, Saiful lebih banyak membantu orang tuanya bekerja dan merawat adik-adiknya di rumah. Ia memilih fokus menyelesaikan sekolahnya dengan harapan suatu hari bisa mengubah nasib keluarga.
“Cita-citanya sebagai TNI. Untuk saat ini saya hanya bisa mendoakan semoga cita-citanya bisa diraih,” pungkas Sulastri. [yog/beq]







1 Komentar
semoga diberikan kemudahan dan kelancaran. aamiin.