Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), Budu, memprediksi 200 juta anak Indonesia akan mengalami gangguan penglihatan pada tahun 2050.
Prediksi serius ini disampaikannya di Surabaya saat kegiatan bakti sosial (baksos) pemeriksaan mata gratis di SD Negeri Bulak Rukem I, Minggu (30/11/2025), bersama Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Benjamin Paulus Octavianus.
Budu memaparkan, saat ini saja, sudah ada 165 juta anak-anak di Indonesia yang mengalami rabun penglihatan yang memerlukan koreksi kacamata. “Tahun ini sudah ada sekitar 165 juta anak Indonesia yang terganggu karena kacamata,” kata Budu di Surabaya, Minggu (30/11/2025).
Ia menegaskan, dari 165 juta anak tersebut, penanganan yang tepat masih sangat minim, di mana hanya satu dari empat anak yang telah mendapatkan solusi pemberian kacamata.
“Hanya satu di antara empat anak yang bisa mendapat solusi pemberian kacamata. Jadi kita perlu menggalakkan skrining kacamata dan pemberian kacamata,” jelasnya.
Oleh karena itu, Budu menekankan perlunya menggalakkan program skrining dan pemberian kacamata. Ia memperingatkan, apabila kondisi ini dibiarkan tanpa pencegahan dan penanganan yang memadai, jumlah gangguan penglihatan pada anak sesuai prediksinya akan terus meningkat hingga mencapai 200 juta pada tahun 2050.
Menanggapi kondisi ironis ini, Wamenkes RI Benjamin Paulus Octavianus, menambahkan bahwa peningkatan kasus juga dipengaruhi oleh lingkungan hidup anak, khususnya karena paparan gadget atau telepon genggam.
Benjamin menjelaskan, rata-rata anak di Indonesia kini sudah terpapar handphone, laptop, dan game sejak usia 2-3 tahun, yang signifikan memengaruhi penglihatan mereka.
“Tadi kita cek, berapa persen dari anak Indonesia usia sekolah yang harus pakai kacamata. Karena sekarang gara-gara gadget itu, mereka sudah lihat handphone, laptop, game itu dari umur 2-3 tahun,” terang Benjamin.
Kekhawatiran lain yang diungkapkan Wamenkes adalah berkurangnya daya penglihatan visual ini akan berpotensi besar mengganggu proses belajar dan menghambat prestasi anak.
“Begitu banyak anak-anak ini, mereka pasti terganggu prestasinya. Karena mereka bacanya nggak tahu, dan orangtuanya nggak tahu bahwa anaknya udah mengalami gangguan yang sangat signifikan,” katanya.
Oleh karena itu, Benjamin mengatakan pemerintah berencana memasukkan program pemeriksaan kesehatan mata anak ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis di sekolah-sekolah mulai tahun 2026, termasuk pemberian kacamata gratis bagi anak yang terdiagnosis.
“Setelah menemukan kasus seperti tadi, harus kita cari jalan keluarnya, harus dilakukan tindakan, yaitu pemberian kacamata, diukur dulu refraksi matanya,” tutup Benjamin. [rma/suf]






