Surabaya (beritajatim.com) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), Ikatan Profesi Optometris Indonesia (Iropin) dan Gabungan Pengusaha Optik Indonesia (Gapopin), menggelar bakti sosial (Baksos) pemeriksaan mata untuk anak sekolah dan guru di SD Negeri Bulak Rukem I Surabaya, Minggu (30/11/2025).
Aksi nyata ini diinisiasi untuk menanggulangi kondisi gangguan mata anak sekolah yang kian ironis, sekaligus mewujudkan visi Presiden Prabowo Subianto untuk ‘Generasi Emas 2045’ dengan menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan pembangunan manusia berkualitas.
Proses pemeriksaan yang dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Benjamin Paulus Octavianus, berlangsung sejak pukul 08.00 WIB dan melibatkan ratusan siswa SD Negeri Bulak Rukem I Surabaya.
Ratusan siswa dibimbing melalui empat tahap pemeriksaan, di mana pada tahap terakhir, mereka yang didiagnosis mengalami gangguan mata atau penglihatan diberi bantuan kacamata gratis.
Wamenkes RI, Benjamin Paulus Octavianus, menyatakan dukungan penuhnya terhadap program kolaborasi ini, mengingat gangguan mata dapat menghambat prestasi siswa karena kesulitan membaca.
“Begitu banyak anak-anak ini mengalami gangguan penglihatan; mereka pasti terganggu prestasinya, karena mereka bacanya nggak tahu, dan orang tuanya nggak tahu,” ujar Benjamin, Minggu (30/11/2025).
Melihat kondisi ironis tersebut, Benjamin mendorong keterlibatan pemerintah daerah (pemda) setempat di seluruh Indonesia untuk berkolaborasi mengentaskan permasalahan mata pada anak-anak siswa, bahkan Benjamin berencana mencanangkan program pemeriksaan mata di sekolah sebagai bagian dari program nasional Cek Kesehatan Gratis di tahun 2026.

“Surabaya sudah membuktikan tadi, baik dari pemerintah setempat, pemda setempat akan memberikan alokasi pendanaan, pemerintah provinsi juga, dan pemerintah pusat harus bersama-sama, kita hitung bersama, maka kita akan mengaturkan strategi bersama,” ungkap Benjamin.
Sementara itu, Ketua Umum Perdami Pusat, Budu, mengungkapkan data bahwa pada tahun 2026 sudah ada sekitar 165 juta anak Indonesia yang terganggu penglihatannya karena membutuhkan koreksi kacamata, fakta ini menunjukkan perlunya penanganan yang cepat dan tepat.
“Tahun ini sudah ada sekitar 165 juta anak-anak rabun penglihatan karena koreksi kacamata,” kata Budu.
Budu juga memaparkan bahwa jumlah anak rabun penglihatan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 200 juta pada tahun 2050 jika tidak segera diintervensi. Ia juga menekankan, dari data tersebut baru satu dari empat anak yang kemudian telah mendapat solusi kacamata.
“Sekitar 200 juta itu (bisa saja kemudian terwujud) pada tahun 2050, kalau itu tidak (segera) dilakukan skrining dan pemberian kacamata secara tepat,” tutup Budu. [rma/suf]






