Gresik (beritajatim.com) – Dua menteri masing-masing Airlangga Hartarto selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, dan Menteri Investasi/Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal, Bahlil Lahadalia secara bersamaan meresmikan operasional smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Kamis (27/6/2024).
Sebelum meresmikan operasional smelter, kedua menteri tersebut terlebih dulu berkeliling ke area smelter didampingi Presdir PTFI Tony Wenas. Mulai dari penerimaan bahan baku yang diangkat kapal di pelabuhan hingga proses produksi dari konsentrat tembaga menjadi katoda tembaga.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto menuturkan, pabrik smelter ini bisa saya sebut ‘extra odinary’ (luar biasa). Sebab, dalam waktu 30 bulan mulai ground breaking (pembangunan proyek perdana) bisa ontime sangat luar biasa.
“Kami mengapresiasi manajemen Freeport Indonesia di KEK Gresik yang bisa membangun smelter sesuai schedule sampai beroperasi,” tuturnya.
Ia menambahkan, sesuai undang-undang mineral dan batubara (Minerba) yang digedok tahun 2004. Kewajiban hilirisasi sudah dilaksanakan. Tapi baru diimplementasikan tahun 2014. Ini karena pemerintah saat itu ada moratorium. Maka hilirisasi mundur, dan baru direalisasikan 2016 saat ada smelter di Morowali Sulawesi Tengah.
“Keberadaan smelter di Morowali itu menjadi bukti hilirisasi industri serta mampu memiliki nilai tambah dari ekspor tembaga Rp 4 miliar terus naik menjadi Rp 30 miliar. Khusus smelter Freeport Indonesia di Gresik diharapkan bisa memberi nilai tambah seperti di Morowali,” imbuhnya.
Airlangga Hartarto menjelaskan smelter Freeport Indonesia di Gresik termasuk yang paling hebat. Pasalnya, 3 hingga 4 tahun kedepan tidak ada yang mampu membangun smelter di lahan 100 hektar dengan ontime.
“Smelter di KEK Gresik sangat tepat waktu pembangunannya. Pasalnya, kedepan semua industri membutuhkan baterai serta kabel untuk teknologi di bidang industri. Apalagi ada dua smelter yakni Smelting dan Freeport Indonesia yang bisa memproduksi 1,7 juta ton katoda tembaga,” paparnya.
Sementara Menteri Investasi/Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal, Bahlil Lahadalia mengatakan, keberadaan Freeport Indonesia di KEK Gresik merupakan perjalanan yang panjang. Dari proses akuisisi tahun 2018. Dimana, persyaratannya harus membangun smelter.
“Pembangunan smelter di Gresik tidak gampang. Sebab, sebelum dibangun ada wacana mau digeser ke Maluku Utara. Dinamikanya minta ampun. Papua juga minta kenapa pembangunan smelter malah di Gresik Jawa Timur. Tahun 2021 diputuskan dibangun. Tapi, terkendala ada wabah covid 19, dan saat ini sama-sama bisa menyaksikan prosesi commissioning operasional smelter mimpi besar bersama,” ungkapnya.
Mantan Ketua Umum Hipmi itu menyatakan dirinya mengapresiasi operasional smelter terbesar di dunia. Untuk itu, setelah bertahap akan beroperasi penuh. Dirinya meminta melibatkan daerah untuk menumbuhkan ekonomi.
“Kalau tidak melibatkan daerah bisa berbahaya. Dari laporan yang masuk UMKM di ring satu Freeport Indonesia dilibatkan supaya tidak ada gejolak. Kedepan keterlibatan pelaku usaha daerah sangat penting,” ujarnya.
Presdir PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas menyatakan smelter yang dibangun ini single line terbesar di dunia dengan kapasitas 1,7 ton katoda tembaga. Output-nya dari produksi itu bisa menghasilkan 50 ton emas, dan 200 ton perak pertahun.
“Pembangunan proyek ini tidak terjadi tanpa dorongan pemerintah dan stakeholder lainnya. Pemda Gresik sangat mendukung pembangunan smelter. Sehingga, hampir tidak ada kendala dalam proses perizinan,” ujarnya.
Saat ini lanjut Tony Wenas, Freeport Indonesia mulai melakukan commissioning pada Juni 2014. Pada Agustus 2024 produksi pertama, dan ramp-up produksi diharapkan operasi penuh pada Desember 2024. (dny/ted)






