Ngawi (beritajatim.com) – Dua kepala keluarga (KK) di RT 04 RQ 01 Dusun/Desa Ngale Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi, Jawa Timur masih mengungsi. Adalah Sunadi (42) dan Sitam (60). Keduanya masih mengungsi karena air di rumah mereka masih menggenang. Air itu merupakan luapan dari sungai desa setempat yang terkena luberan Bengawan Solo.
BACA JUGA:
Pemkab Ngawi Siapkan Dapur Umum dan Data Lahan Pertanian Terdampak Banjir
Sitam bercerita, dia beserta sang istri yakni Suminah (55) dan putra keduanya Brownie Anggoro (15) terpaksa mengungsi ke rumah saudara. Air menggenangi rumahnya sejak Kamis (2/2/2023) pukul 19.00 WIB. Hingga Jumat (3/3/2023) belum surut. Ketinggian air mencapai paha orang dewasa.
Pantauan beritajatim.com di lokasi, barang berhara milik Sitam berupa satu unit motor tak terselamatkan. Motor itu ditinggalkannya saat dia mengungsi. Air yang naik begitu cepat membuatnya tak sempat menyelamatkan motornya.

“Saya beserta anak istri mengungsi ke rumah saudara. Ini saya ke rumah cuma menengok saja. Kami belum bisa kembali ke rumah karena airnya masih tinggi. Belum bisa ditempati. Tadi sudah dapat bantuan sembako,” kata Sitam, Jumat (3/3/2023).
Dia mengaku terpaksa meninggalkan perabotannya karena sudah tak bisa lagi membawa. Buruh tani itu hanya bisa mengamankan surat-surat berharga dan sejumlah pakaian untuk mengungsi.
BACA JUGA:
Ngawi Banjir, Warga Mengungsi di Kamar Mandi Umum
Tak hanya Sitam, Sunadi juga masih mengungsi bersama istrinya Sriyanti (37) dan putri tunggalnya Ananda Dewi Febrianti (17). Sunadi menyimpan sejumlah perabotan seperti kasur di loteng rumahnya. Sementara, sejumlah benda elektronik, kendaraan, dan lima ekor kambing miliknya sudah berhasil dievakuasi sejak Kamis malam.

“Sampai saat ini belum bisa kembali ke rumah. Karena rumah memang sudah surut tapi dapur masih tergenang. Masih belum aman. Ini masih mengungsi di rumah saudara kami,” katanya.
Mereka mengharap air bisa segera surut. Namun, belakangan air kiriman dari Waduk Gajah Mungkur ke Bengawan Solo diperkirakan masih dialirkan. Mereka hanya bisa waspada. [fiq/suf]






