Jombang (beritajatim.com) – Selain memiliki pemandangan yang indah, kawasan Wonosalam Jombang, Jawa Timur, juga memiliki banyak kekayaan alam. Salah satu komoditas unggulan di lereng pegunungan Anjasmoro tersebut adalah durian.
Durian Wonosalam memiliki rasa khas. Dagingnya tebal, rasanya manis bercampur pahit. Nah, untuk mengembangkan produk unggulan tersebut, Pemkab Jombang melakukan berbagai langkah. Salah satunya, melakukan pendataan dan pemetaan pohon durian di kecamatan yang berada di kawasan perbukitan tersebut.
Pohon durian durian yang sudah didata itu kemudian diberi barcode. Label tersebut sebagai penanda fisik buah durian. Barcode itu berisi tentang lokasi pohon, jenis durian, grade, tahun tanam.
“Semacam KTP. Setiap pohon didata dan diberi barcode. Isinya identitas pohon tersebut, mulai lokasi hingga jenis buah durian,” ujar Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Bappeda (Badan Perencanaan Pembanguan Daerah) Kabupaten Jombang, Isawan Nanang, Selasa (14/9/2021).
Isawan menjelaskan, pendataan tersebut merupakan sinergitas lintas sektor. Di antaranya, Bappeda, Dinas Pertanian, Asosiasi Komoditas (Askom), serta Poktan (Kelompok Tani) dan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Walhasil, di masing-masing desa yang ada di Kecamatan Wonosalam, pohon durian tersebut terdata.
Dari hasil pemetaan itu diketahui jumlah tanaman durian di Kecamatan Wonosalam tercaatat 192.152 pohon. Rinciannya, tanaman sudah berbuah atau menghasilkan sebanyak 112.521 pohon, sedangkan yang belum menghasilkan 79.632 pohon.
“Sebanyak 192.152 pohon durian tersebut tersebar di sembilan desa di Kecamatan Wonosalam. Paling banyak di Desa/Kecamatan Wonosalam tercatat 62.714 pohon atau 32,64 persen. Paling sedikit di Desa Wonokerto, yakni 2.631 pohon atau 1,37 persen,” kata Isawan sembari menunjuk data yang dimaksud.
Populasi tertinggi selanjutnya di Desa Jarak, yakni 35.868 pohon durian atau 18,67 persen. Lalu, Desa Carangwulung sebanyak 33.767 pohon durian atau 17,57 persen. Disusul kemudian Desa Panglungan tercatat 20.675 pohon durian atau 10,76 persen. “Desa-desa lainya jumlah populasinya antara 8 hingga 2 persen,” sambung Isawan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”wonosalam”]
Selain sebarannya, durian tersebut juga dilihat dari kualitasnya. Yakni meliputi durian grade A, grade B, grade B+, grade C, serta grade D. Setiap grade memiliki ciri fisik dan kualitas berbeda. Semisal durian grade A memiliki daging tebal, warna menarik, pernah menjadi juara kontes, serta bibit berasal dari generatif/vegatatif.
Kemudian durian grade B+ pembibitannya secara generatif, dagingnya tebal dan memiliki warna menarik, bijinya lajur, serta berpotensi menjadi durian grade A. “Durian B+ bijinya lajur, sedangkan grade B bijinya tumpuk,” jelas Isawan.
Isawan mengungkapkan, hasil penelitian durian Wonosalam tersebut sudah didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM. Sedangkan hasil pendataan dikelola dalam aplikasi yang dikelola Askom yang terintegrasi dengan laman www.gowonosalam.com. “Ini digunakan untuk mengetahui standart buah durian Wonosalam,” pungkas Isawan. [suf]






