Lumajang (beritajatim.com) – Sebanyak 165 warga Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, harus menjalani perawatan pascaterjadinya erupsi awan panas Gunung Semeru. Data dari Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes-P2KB) Lumajang mencatat, tiga orang mengalami luka bakar akibat paparan abu vulkanik, sementara 162 warga lainnya menjalani rawat jalan di Puskesmas maupun posko kesehatan yang tersebar di titik pengungsian.
Kepala Dinkes-P2KB Lumajang, dr Rosyidah, mengatakan keluhan kesehatan dialami banyak pengungsi dan warga di sekitar lokasi terdampak. Diagnosa terbanyak meliputi sakit kepala, pegal-pegal, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), nyeri perut, demam, serta iritasi kulit. Kondisi itu dialami warga dari berbagai rentang usia, terutama remaja hingga lanjut usia.
“Untuk penderita terbanyak adalah kelompok usia antara 15–60 tahun,” terang Rosyidah di Lumajang, Senin (24/11/2025).
Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan enam fasilitas kesehatan yang dapat diakses pengungsi maupun warga di sekitar kawasan terdampak erupsi. Faskes tersebut meliputi Puskesmas Pronojiwo, Penanggal, Candipuro, RSUD Pasirian, dan RSUD dr. Haryoto Lumajang.
“Selain itu, warga juga bisa mengakses layanan Public Safety Center di 199,” ungkap Rosyidah.
Perkembangan situasi pengungsian juga masih dinamis. Saat ini, sebanyak 645 warga bertahan di dua titik lokasi pengungsian. Rinciannya, SMPN 2 Pronojiwo menampung 192 pengungsi, sedangkan SDN 4 Supiturang menampung 214 jiwa. Sementara itu, 239 warga lainnya tersebar di rumah-rumah keluarga para penyintas.
Jumlah pengungsi disebut fluktuatif, mengikuti kondisi di lapangan serta kebutuhan warga yang masih memerlukan perlindungan dan pemantauan kesehatan pascaerupsi awan panas Gunung Semeru. [has/beq]






