Blitar (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar mencatat temuan 15 kasus suspek campak di wilayahnya menjelang Hari Raya Idul Fitri. Mayoritas kasus menyerang kelompok rentan, yakni balita hingga anak usia sekolah.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Christine Indrawati, menjelaskan hasil laboratorium yang negatif pada pasien suspek kerap terjadi karena pemeriksaan dilakukan saat kondisi pasien sudah mulai membaik.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat virus campak sering kali tidak lagi terdeteksi saat sampel diambil karena pasien telah memasuki fase pemulihan.
Christine mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit campak, terutama menjelang Lebaran ketika mobilitas warga meningkat. Tingginya aktivitas perjalanan dan pertemuan antar keluarga dinilai dapat meningkatkan risiko penularan penyakit tersebut, khususnya pada anak-anak dan balita.
“Bayi di bawah sembilan bulan masih punya kekebalan masa dari ibunya. Harapannya, jika imunitas ibunya bagus dan pernah imunisasi campak, bayinya juga kuat. Tapi tetap, kewaspadaan harus utama karena mereka belum mendapatkan imunisasi sendiri,” ungkap Christine pada Sabtu (14/3/2026).
Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan dikenal sangat mudah menular. Penyebarannya dapat terjadi melalui percikan air liur atau droplets saat seseorang batuk, bersin, maupun melalui udara.
Orang tua diminta mewaspadai sejumlah gejala klinis campak pada anak, di antaranya demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba serta munculnya ruam atau bercak merah khas pada kulit setelah demam.
Menjelang mudik Lebaran, interaksi sosial yang meningkat dan mobilitas masyarakat yang tinggi dinilai berpotensi mempercepat penyebaran virus tersebut. Kerumunan di tempat umum maupun aktivitas silaturahmi antarwilayah dapat menjadi faktor yang memudahkan penularan.
“Yang mudik dan melakukan perjalanan, jaga kondisi dan stamina. Saat berbuka, makanlah makanan yang bergizi. Dan yang paling sering dilupakan adalah minum yang cukup,” imbuhnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar juga mengimbau para orang tua agar lebih proaktif dalam memantau kondisi kesehatan anak. Kecepatan diagnosis dinilai menjadi kunci penting untuk memutus rantai penularan sekaligus memastikan anak mendapatkan penanganan medis yang tepat.
“Kami meminta masyarakat, terutama orang tua, untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala demam yang disertai ruam. Jangan menunggu sampai parah. Deteksi dini sangat penting untuk memastikan diagnosis dan mencegah penularan lebih luas,” tegas Christine. [owi/beq]






