Jakarta (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia mencatat sebanyak 14.796 jemaah umrah telah kembali ke Tanah Air per 5 Maret 2026 melalui pendampingan intensif di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Langkah pengawasan ketat ini dilakukan secara kolaboratif bersama Tim Fungsi Konsuler KJRI Jeddah guna memastikan keselamatan jemaah di tengah dinamika jadwal penerbangan internasional.
Berdasarkan laporan harian pada Kamis (5/3/2026), terdapat 2.735 jemaah umrah Indonesia yang telah terbang meninggalkan Arab Saudi menggunakan berbagai maskapai resmi. Hingga saat ini, seluruh jadwal kepulangan dilaporkan berjalan sesuai rencana, memberikan kepastian bagi ribuan keluarga jemaah di berbagai wilayah, termasuk di kantong-kantong jemaah besar seperti Jawa Timur.
Meski mayoritas penerbangan berjalan lancar, tercatat sebanyak 158 jemaah umrah Indonesia masih mengalami penundaan kepulangan. Ratusan jemaah yang tertunda tersebut saat ini berada dalam perlindungan petugas di Kota Jeddah dan Makkah, sembari menunggu proses penjadwalan ulang (reschedule) dari pihak maskapai dan penyelenggara perjalanan.
Staf Teknis Haji pada Kantor Urusan Haji Jeddah, M. Ilham Effendy, menegaskan bahwa personel pemerintah tetap bersiaga di lapangan untuk mengantisipasi segala kendala teknis yang dialami jemaah. Kehadiran negara di garda terdepan bandara bertujuan untuk meminimalisir disinformasi yang sering kali memicu kekhawatiran bagi keluarga di Indonesia.
“Petugas terus berada di lapangan untuk memantau langsung proses keberangkatan jemaah umrah Indonesia di Bandara Internasional King Abdulaziz. Kami memastikan jemaah mendapatkan informasi yang jelas serta pendampingan selama proses kepulangan berlangsung,” ujar Ilham di Jeddah pada (5/3/2026).
Selain mengawal kepulangan, tim di lapangan juga memonitor arus kedatangan jemaah umrah baru yang mencapai 352 orang pada periode yang sama. Kemenhaj memastikan bahwa perlindungan tetap diberikan secara seimbang, baik bagi jemaah yang baru tiba maupun yang sedang dalam proses transisi menuju Indonesia.
Koordinasi lintas sektor terus diperkuat dengan maskapai penerbangan dan asosiasi penyelenggara perjalanan umrah. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan jemaah yang tertahan tetap mendapatkan pelayanan akomodasi dan konsumsi yang layak selama menunggu keberangkatan susulan.
“Bagi jemaah yang saat ini masih menunggu penjadwalan ulang penerbangan, kami terus melakukan koordinasi dengan maskapai dan penyelenggara perjalanan. Kami memastikan seluruh jemaah tetap mendapatkan pendampingan serta pelayanan yang diperlukan hingga dapat kembali ke Tanah Air dengan aman,” tambahnya.
Kemenhaj mengimbau agar keluarga jemaah di Indonesia, khususnya yang berada di wilayah Jawa Timur, tetap tenang dan hanya merujuk pada informasi resmi dari pemerintah. Petugas Satgas Bandara berkomitmen melakukan pemantauan 24 jam untuk menjamin keamanan dan kenyamanan jemaah hingga tiba di bandara tujuan di tanah air.
Guna mendukung kelancaran proses di area bandara, jemaah disarankan untuk memperhatikan beberapa hal teknis berikut:
- Pastikan dokumen perjalanan lengkap, termasuk paspor, boarding pass, dan identitas jemaah selalu disimpan dengan baik.
- Ikuti arahan petugas dan pembimbing perjalanan selama berada di bandara maupun di hotel.
- Perhatikan informasi penerbangan dari maskapai atau penyelenggara perjalanan, terutama jika terjadi perubahan jadwal.
- Tetap berada dalam rombongan dan tidak meninggalkan lokasi yang telah ditentukan tanpa koordinasi dengan petugas.
- Jaga kondisi kesehatan dengan cukup istirahat dan konsumsi air yang cukup selama menunggu proses keberangkatan.
Pemerintah menegaskan bahwa penguatan pengawasan ini akan terus berlangsung secara berkelanjutan. Komitmen perlindungan ini mencakup aspek administrasi hingga pelayanan fisik di lapangan agar setiap jemaah mendapatkan hak perlindungan maksimal sebagai warga negara di luar negeri. [ian]






