Lamongan (beritajatim.com) – Pawai Ogoh-ogoh di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan digelar, Selasa (21/3/2023). Terdapat 13 ragam bentuk ogoh-ogoh yang diarak mengitari Desa Balun sejauh 3 km, oleh masyarakat, baik dari umat Hindu maupun lainnya.
Belasan ogoh-ogoh itu telah dirangkai oleh masyarakat sejak bulan Januari lalu. Pawai ogoh-ogoh bertajuk “Melalui Dharma Agama, Dharma Negara Kita Sukseskan Pesta Demokrasi Indonesia” pada tahun ini berlangsung ramai dan semarak setelah 3 tahun sebelumnya tak digelar karena pandemi Covid-19.
Pawai ogoh-ogoh ini menyedot perhatian publik. Masyarakat dari berbagai penjuru hadir dan memadati Desa Balun yang dikenal dengan sebutan Desa Pancasila itu. Pawai ini tampak begitu dinanti-nanti oleh semua kalangan.
Di Desa Balun sendiri, pawai ogoh-ogoh ini memang digelar untuk menyongsong Hari Raya Nyepi dan menyambut Tahun Baru Caka 1945. Pawai ini merupakan wujud dari keharmonisan sosial yang dibina oleh masyarakat Desa Balun.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ogoh-ogoh”]
Seperti yang diketahui, Desa Balun dikenal dengan nama Desa Pancasila lantaran masyarakatnya sangat moderat dan menjunjung tinggi toleransi. Di desa ini terdapat 3 agama yang hidup saling berdampingan secara harmonis dan damai, meliputi Hindu, Islam dan Kristen.
Dalam kesempatan ini, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengungkapkan bahwa keharmonisan yang menyelimuti masyarakat Balun ini adalah wujud dari tingginya indeks kesalehan sosial Lamongan yang berada di angka 86,77 persen. Salah satu indikator untuk mengukur indeks itu ialah kerukunan masyarakat.
“Selamat Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Caka 1945. Saya sangat bangga akan keharmonisan sosial yang dibina masyarakat Desa Balun ini, karena perilaku masyarakatnya mampu meningkatkan angka kesalehan Lamongan,” tutur Bupati Yuhronur.

Bupati yang akrab disapa Pak YES ini menjelaskan, pawai ogoh-ogoh yang digelar tiap tahun dan menjadi bagian dari ritual umat Hindu ini dimaknai sebagai pemusnahan sifat buruk manusia. Hal itu ditandai dengan dilakukannya pembakaran ogoh-ogoh yang melambangkan roh jahat di penghujung pawai.
“Pembakaran ogoh-ogoh ini sebagai simbol bahwasanya kita harus membuang angkara murka yang ada pada diri kita. Dengan begitu, akan menjadikan Lamongan bangkit ekonominya, lancar pembangunannya, dan sejahtera masyarakatnya,” tegas Pak YES saat memimpin pembakaran ogoh-ogoh.
Berdasarkan catatan yang diserap beritajatim.com, perayaan pawai ogoh-ogoh yang digelar pada tahun ini menjadi yang terbesar. Pasalnya, ogoh-ogoh yang diarak jumlahnya lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, antusiasme masyarakat pun begitu tinggi.
“Iya. Ini merupakan pawai ogoh-ogoh terbesar di Lamongan, jika dilihat dari antusiasme masyarakat dan jumlah ogoh-ogoh. Menariknya, durasi pembuatan ogoh-ogoh ini cukup singkat karena dibantu oleh semua umat, tidak hanya umat Hindu saja. Bahkan 9 ogoh-ogoh yang tampil merupakan sumbangsih dari umat beragama lain di sini, dan yang dari umat Hindu berjumlah 4,” terang Pemangku Pura Sweta Naga Suci Desa Balun.[riq/kun]






