Surabaya (beritajatim.com) – Stunting masih menjadi tantangan besar pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Meskipun prevalensinya terus menurun, angka stunting nasional masih berada di atas target yang ditetapkan. Untuk itu, intervensi gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dinilai menjadi langkah paling strategis dalam upaya pencegahan stunting.
Menjawab persoalan tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi gizi kepada para santri dan santriwati di Pondok Pesantren Al Fitrah Surabaya. Kegiatan ini diketuai oleh Dr. Wiwik Winarningsih, dr., M.Kes dan diikuti oleh 37 peserta.
Materi yang disampaikan menekankan pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau yang dikenal sebagai periode 1000 HPK. Masa ini disebut sebagai periode emas yang menentukan tumbuh kembang anak secara optimal, baik secara fisik, kognitif, maupun sosial.
“Selama 1000 hari pertama, anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Jika kebutuhan gizinya tidak terpenuhi, maka risiko stunting meningkat drastis. Inilah yang menjadi perhatian utama kami dalam kegiatan ini,” ujar Dr. Wiwik, Senin (28/7/2025).
Ia menambahkan, edukasi ini penting diberikan kepada santri karena mereka kelak akan menjadi bagian dari masyarakat yang memiliki peran dalam membentuk keluarga sehat. “Kami berharap, para santri mampu mencetak generasi sehat dan cerdas,” jelasnya.
Menurut data, penyebab stunting bersifat multifaktorial. Selain asupan gizi yang kurang dan kondisi kesehatan yang buruk, stunting juga dipicu oleh faktor sosial-ekonomi, sistem pangan, hingga minimnya edukasi kesehatan reproduksi dan gizi di masyarakat.
Dengan pendekatan edukatif yang dilakukan FK Unusa ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya 1000 HPK dapat meningkat, sehingga terbentuk generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas di masa depan. [ipl/but]






