Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 10 bocah dilaporkan warga karena dianggap meresahkan. Hal itu diduga akibat kecanduan ngelem alias menghisap lem keras.
Kepala Satpol PP Surabaya M Fikser mengatakan 10 remaja itu di antaranya 8 laki-laki dan 2 perempuan, sudah diamankan petugas pada Senin (8/1/2024) lalu.
“Mereka itu tinggal di bawah semacam penampungan. Anak-anak itu meresahkan warga, lalu kita bawa, periksa, ada yang kecanduan lem,” kata M Fikser, Rabu (10/1/2024).
Fikser menyampaikan 10 remaja itu 2 di antaranya berasal dari Surabaya. Sisanya mereka merupakan warga luar kota. Saat ditanya alasan ke Surabaya, merekan mengaku hanya ikut-ikutan untuk mencoba ngelem.
“Rata-rata dari luar kota, mereka kesini (Surabaya) ikut teman-temannya akhirnya tidak pulang, mereka dibawah umur 17 tahun,” ujar mantan Kadiskominfo ini.
Usai diamankan dan didata oleh petugas Satpol PP, kata Fikser, mereka langsung diajakberwisata ke Liponsos Keputih merawat Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ). Kemudian mereka dikirim ke Dinsos Jatim untuk dipulangkan ke daerah masing-masing.
“Mereka dibawa dulu ke Liponsos lalu dikirim ke Provinsi untuk dikirim ke daerahnya. Kan mereka bukan warga Surabaya,” ujar dia.
Mirisnya, dari 10 remaja yang ngelem itu, salah satunya ada yang sedang hamil. Dia datang dengan pasangannya ke Surabaya dan keduanya masih di bawah umur.
“Salah satu anak ini ada yang hamil di luar nikah dengan pasangannya, umur sekitar 17 tahun. Luar Surabaya, pasangannya juga luar Surabaya. Ada anak dari Jepara sama dari Nganjuk, belum menikah,” jelasnya.
Parahnya lagi, lanjut Fikser, salah satu perempuan berusia 15 tahun warga Surabaya ikut ngelem. Saat dipanggilkan keluarganya yakni orang tuanya ternyata juga tak kuasa dengan perilaku anaknya.
“Ada salah satu perempuan usia 15 tahun, setelah komunikasi dengan orang tuanya, kayaknya orang tuanya susah menerima (perilaku anaknya). Kita bawa ke Liponsos,” ucapnya.
Fikser menambahkan pihaknya sempat menawarkan para remajau untuk melanjutkan sekolah. Sebab, Pemkot Surabaya ada program anak asuh dari Satpol PP.
“Tapi mereka ndak mau dan putus sekolah lama sekali, sehingga kita bawa ke Liponsos,” pungkasnya. [asg/ian]






